Page 149 - Supernova 4, Partikel
P. 149

Aku mengatur napas. Gugup. “I’m really doing this, aren’t I?” Kutatap kedua pria itu,
        mencari kekuatan.

          “You’ll live, Missy.” Paul merangkul bahuku.

                                                                                                               3.

        Pertengahan Maret 2001. Aku kembali ke London. Masih hidup dan utuh.

          Tak  ada  lagi  Paul  dan  Zach  yang  menjemput  di  bandara.  Aku  pulang  sendiri  dengan
        kereta. Sesuai dengan ramalan Paul, semua benda baru yang kubeli tiga bulan lalu kini

        terlihat berusia tiga tahun.

          Aku pulang ke apartemen Zach, memakai kunci duplikat yang sudah ia sembunyikan di
        tempat  khusus.  Zach  sedang  ke  Alaska  dua  minggu.  Paul  baru  akan  menemuiku  besok
        siang. Malam ini aku menikmati kesendirian.

          Di bathtub aku berendam lama hingga kulit-kulit tangan dan kakiku keriput. Sesudah ini,
        seorang terapis shiatsu langganan Zach bernama Helen sudah kupesan untuk memijatku
        dua jam. Biasanya aku tak pernah tertarik memakai jasa Helen, bukan karena dia tidak
        ahli, melainkan karena menurutku servisnya mahal luar biasa. Masih sulit bagiku untuk

        tidak  membandingkan  jasa  pijat  di  London  dengan  jasa  pijat  mbok-mbok  di  Indonesia.
        Namun, malam ini aku tak peduli.

          Setelah  mengalami  apa  yang  kualami  berminggu-minggu  di  perbukitan  Loita,  aku
        merasa layak memanjakan diri.

          Dari tiga bulan masa tugasku, aku memiliki setidaknya tujuh kali kesempatan memotret
        dengan  rentang  waktu  berbeda-beda,  dari  cuma  dua  hari  sampai  seminggu.  Dari  tujuh
        kesempatan  itu,  tidak  semuanya  kugunakan  untuk  memotret,  beberapa  kali  aku  bolak-

        balik hanya untuk persiapan sekaligus mengenal medan.

          Sesuai  adat  di  desa  Maasai  yang  kukunjungi,  mereka  memberiku  nama  Maasai:
        Selenkay. Artinya, perempuan yang keras kepala waktu remaja. Aku takjub sekaligus geli.
        Orang-orang  lembah  besar  Afrika  yang  tak  mengenalku  sama  sekali,  tidak  tahu  kisah
        hidupku,  dan  tahu-tahu,  dari  sekian  nama  yang  mereka  bisa  pilih,  aku  diberi  nama  itu.
        Sementara,  teman-temanku  yang  juga  ikut  ke  sana  diberi  nama  dengan  arti
        “kebijaksanaan”, “lagu merdu”, “matahari terbit”, dan lain-lain, aku… perempuan keras

        kepala?

          Nama  Maasai-ku  sepertinya  tidak  diberikan  sembarangan.  Kejadian  demi  kejadian  di
        sana seolah mengonfirmasi intuisi pemimpin desa yang memberiku nama.

          Oleh pemanduku, Olubi, aku diberi tahu bahwa tak sampai lima kilometer dari desanya,
        ada telaga kecil yang jadi sumber air hewan-hewan yang lewat ke sana, termasuk para
        singa. Setelah kulihat jejak singa dengan mata kepalaku sendiri, hatiku pun bulat untuk
        menetapkan perburuan fotoku di dekat telaga.

          Telaga  yang  dimaksud  Olubi  cuma  sekitar  25  meter  persegi  luasnya.  Ibarat  setetes

        keringat di wajah Loita yang luas. Namun, berhubung tidak ada lagi sumber air lain dekat-
        dekat  situ,  telaga  mungil  itu  menjadi  perhentian  yang  hampir  pasti  bagi  hewan-hewan
   144   145   146   147   148   149   150   151   152   153   154