Page 150 - Supernova 4, Partikel
P. 150

yang melintas.

          Paul  sudah  mengajariku  berbagai  cara  untuk  memata-matai  hewan  liar  dengan  aman
        tanpa  mengganggu  mereka.  Salah  satunya  adalah  dengan  menggali  lubang  dengan
        konstruksi  atap  sederhana  untuk  menutupi  kepalaku,  entah  dari  seng,  kayu,  atau  yang
        lainnya, menyisakan celah cukupan untuk lensa kamera membidik.

          Aku  menuruti  saran  Paul,  membuat  lubang  sesuai  dengan  petunjuknya.  Lubang  itu

        kubuat dengan mencicil. Setiap kali aku punya kesempatan kembali ke daerah telaga, aku
        menggali lebih dalam, hingga pada kunjungan ketiga, lubang itu selesai. Aku berencana
        memanfaatkannya  maksimal  pada  waktu  seminggu  yang  kupunya,  yang  sekaligus
        merupakan  kesempatan  memotretku  terakhir  sebelum  masa  tugasku  usai  di  Kenya.  Di
        lubang  itu  aku  bisa  diam  setengah  hari,  dari  pagi  hingga  sore,  sampai  Olubi  kembali
        menjemput dengan Land Rover sewaan kami.

          Tak  bisa  dipastikan  jenis  hewan  apa  yang  datang  setiap  harinya  ke  telaga,  tapi  bisa

        dipastikan  lubangku  itu  selalu  semarak  oleh  lalat  tsetse.  Siang  hari,  penunjuk
        termometerku bisa mendaki hingga 40 derajat Celcius. Diam di dalam lubang menambah
        panas ekstra. Tiga liter air yang kubawa setiap hari berakhir menjadi air panas. Kuminum
        pada cuaca yang menggigit.

          Suatu  hari,  sekelompok  babun  tahu-tahu  berdiri  di  pinggir  lubangku,  berputar-putar
        sambil  barangkali  berpikir  betapa  menariknya  WC  baru  ini,  dan  kemudian  dengan
        barbarnya mereka mengencingiku tanpa ampun. Panji permusuhanku dengan babun resmi

        berkibar.

          Tak tahan lagi berdiam di lubang, akhirnya kuputuskan mencebur ke telaga dangkal itu.
        Membenamkan  diri  dengan  berjongkok,  hanya  kepala  dan  tanganku  memegang  bodi
        kamera yang muncul di permukaan air.

          Karena  jarak  yang  lebih  pendek,  aku  pun  terbebas  dari  lensa  tele  yang  berat  dan
        mencolok,  kembali  memakai  lensa  50  milimeter,  lensa  andalanku.  Sejuk  air  pun
        membantuku bertahan dalam cuaca neraka itu. Nahasnya, air telaga yang berlumpur dan
        pesing adalah rumah bagi serangga-serangga air yang tak kenal ampun. Aku pulang ke

        tendaku setiap malam hanya untuk menemukan bentol dan beruntus baru. Aku yakin betul
        kencing kawanan babun juga punya andil di dalamnya.

          Enam hari di Loita, berhasil kudapatkan foto zebra, celeng, soang Mesir, dan antelop
        Defassa. Baru pada hari terakhir, predator yang kutunggu-tunggu akhirnya muncul.

          Kawanan  soang  Mesir,  yang  tadinya  berenang  santai  di  air,  tiba-tiba  mengepakkan
        sayapnya, kabur dengan panik. Refleks yang serupa terlihat pada binatang-binatang lain

        yang juga ikut menoleh dan langsung bergeser. Akulah yang paling terlambat sadar.
          Empat ekor singa—satu jantan, tiga betina—berlari kalap ke arah telaga bagai musafir

        padang pasir yang meregang kehausan.

          Kerumunan  binatang-binatang  di  telaga  dengan  dramatis  tersibak,  memberikan  ruang
        yang  cukup  bagi  tibanya  raja-raja  lembah.  Jantungku  serasa  kehilangan  denyut.  Belum
        pernah aku berada di jarak sedekat itu dengan singa liar.
   145   146   147   148   149   150   151   152   153   154   155