Page 151 - Supernova 4, Partikel
P. 151

Momen-momen  awal  mereka  tiba  di  telaga  adalah  momen-momen  emasku.  Saking
        hausnya, mereka tidak lagi peduli apa pun selain minum. Termasuk makhluk misterius di
        tengah telaga, yang muncul dengan corong hitam dari permukaan air.

          Dikepung  empat  singa  dewasa  dalam  jarak  dekat,  bunyi  shutter  kameraku  mendadak
        terasa terlalu bising. Kepalaku mendadak terlalu mencolok. Dalam jarak ini, mereka dapat
        menerkamku dengan sekali lompat. Inilah saat tepat bagiku untuk menyulap tubuh jadi

        transparan, sihir yang sayangnya tidak kukuasai.

          Mereka minum dan minum seolah tiada hari esok. Hingga, di satu titik, sang singa jantan
        mulai mendongak. Menemukan lensaku. Mataku. Kami beradu tatap dalam rentang waktu
        yang  terasa  bagai  keabadian.  Instingtif,  temannya  mulai  ikut  merasa.  Satu  demi  satu,
        singa-singa  itu  menemukan  mataku.  Tubuhku  menegang.  Ketakutan  mulai  merambat.
        Menguasai ototku secara bertahap. Kameraku mulai gemetar.

          Jika tadi momen emas, ini adalah momen platinum. Salah satu predator darat terbesar di

        Planet Bumi menatapku tepat di bola mata dalam jarak kurang dari empat meter.

          Menggunakan sisa kekuatan otot yang ada untuk menekan shutter, aku memberanikan
        diri untuk kembali membidik. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Empat kali.

          Sorot  mata  mereka  menajam.  Entah  bunyi  shutter  kamera  atau  badanku  yang  mulai
        bergetar  dan  mengirimkan  riak-riak  ketakutan  yang  mereka  deteksi,  tapi  aku  mulai
        merasakan aura ancaman.

          Sang  raja  tahu-tahu  kembali  menunduk,  minum.  Tak  lama,  yang  lain  mengikuti.
        Napasku  yang  tadi  tertahan  mulai  bisa  mengembus.  Kelihatannya  mereka  tidak  lagi

        menganggapku makanan potensial. Namun, aku belum berani menyimpulkan.

          Matahari sudah mulai turun. Tak jauh dari sini, mobil penjemputku akan datang. Hal
        terburuk  yang  bisa  terjadi  adalah  terjebak  dalam  telaga  ketika  malam  datang.  Jika  itu
        terjadi, kemungkinan besar aku keluar dari Kenya tinggal nama dan cabikan jasad.

          Hanya empat meter jarak dari punggungku ke tepian. Tiket keluarku satu-satunya dari
        sini. Aku mundur sepelan mungkin, menjaga keseimbangan kakiku baik-baik di atas lantai
        lumpur  yang  licin,  tanganku  erat  memegang  kamera  dengan  segenap  jiwa.  Setiap  inci
        gerakanku seperti memancing reaksi dari para singa. Entah sekadar lirikan, atau tatapan

        tajam, langkah mundur teraturku berlangsung di bawah pengawasan ketat.

          Air yang semakin dangkal kian membuka kedokku yang sesungguhnya. Ketika air sudah
        di bawah pinggang, mulailah aku melata, menggeliat bagai ikan sapu, menggapai tepian.
        Dan,  ketika  kakiku  menapak  di  tanah  kering,  memelesatlah  aku  berlari  sekencang-
        kencangnya.

          Kutinggalkan  botol  air  dan  ranselku  yang  teronggok  di  dekat  lubang.  Aku  tak  peduli
        lagi.  Dari  kejauhan,  tampak  Land  Rover  jemputanku.  Di  mobil  itu,  aku  tahu  Olubi

        menyimpan senapan kaliber .458 yang mampu melumpuhkan gajah dengan sekali tembak.
        Aku  berharap  Olubi  tak  perlu  menembakkannya  demi  keselamatanku.  Dan,  tampaknya
        memang  tak  perlu.  Kusempatkan  menoleh  ke  belakang.  Keempat  singa  itu  diam  di
        tempatnya, bergeming menatap seorang manusia berbalur lumpur yang tunggang langgang
   146   147   148   149   150   151   152   153   154   155   156