Page 152 - Supernova 4, Partikel
P. 152

seperti dikejar setan.

          Terengah-engah  aku  menggapai  mobil.  Olubi  melongo  melihatku  yang  datang  bagai
        monster  berkaki  dua  yang  baru  keluar  dari  perut  Bumi.  Akhirnya,  dia  tersadar  bahwa
        selama hunting foto ini aku menceburkan diri di telaga. Sebelumnya, aku selalu punya
        kesempatan ganti baju terlebih dulu. Tidak kali ini.

          Saking kotor dan baunya, Olubi tidak membukakan pintu. Ia menyuruhku naik ke bak

        belakang.  Aku  menurut  saja.  Saat  itu,  aku  tak  sanggup  lagi  berkata-kata.  Hanya  bisa
        tertawa  campur  menangis  campur  ngos-ngosan.  Luapan  emosi  mulai  meledak-ledak,
        menyadari aku masih bernyawa. Setidaknya sehari lagi.

          Land Rover itu memutar sejenak, Olubi menyambar tas dan botolku. Dan, meluncurlah
        kami  meninggalkan  Loita.  Adrenalin  yang  mengalir  deras  membuat  tubuhku  bergetar
        hebat. Aku harus berteriak-teriak sepanjang jalan untuk melepaskan ketegangan tubuhku.
        Lengkaplah sudah. Olubi seperti sedang mengangkut siluman kesurupan di bak mobilnya.

          Malam itu, Olubi menceritakan kisahku kepada pemuda-pemuda prajurit Masaai di desa.

        Mereka terpingkal-pingkal histeris. Mereka bilang, singa selalu mengenal manusia sebagai
        makhluk  bipedal  yang  berjalan  tegak.  Penyamaranku  di  air,  lalu  melata  di  lumpur,
        kemudian  lari  terbirit-birit,  sepertinya  menjadi  kombinasi  yang  membingungkan  bagi
        singa.  Mereka  yakin,  jika  singa  bisa  bicara,  malam  ini  singa-singa  niscaya  rapat  besar
        membahas penampakan makhluk aneh yang mereka lihat tadi sore.

          Dari kumpulan orang yang ikut tertawa mendengar ceritaku, akulah yang tertawa paling
        keras.  Terjongkok-jongkok  sampai  bercucuran  air  mata.  Menertawai  kegoblokanku,

        kemujuranku, kenekatanku. Lolos dari jeratan maut ternyata mampu membuat seseorang
        jadi manusia paling bahagia sekaligus paling sinting.

          Sepulangku dari desa Maasai, aku masih punya sisa dua minggu di Kenya. Dan, aku
        jatuh  sakit.  Tes  laboratorium  mengindikasikan  infeksi  parasit  yang  menyerang
        pencernaanku. Belum lagi gatal-gatal menyiksa sekujur tubuh yang sudah tak jelas lagi
        apakah itu akibat sengatan lalat tsetse, gigitan larva capung, atau kencing babun.

          Empat  hari  tak  berkutik  di  tempat  tidur,  tahu-tahu  Olubi  mampir  ke  kamp.  Ia

        memberikan obat tradisional suku Maasai yang dioleh-olehi dari dukun di desanya. Ada
        dua  macam  obat  dibawa  Olubi,  yang  satu  berbentuk  bubuk  dari  tumbukan  akar  pohon
        untuk kucampur air dan kubalurkan di luka-luka kulitku, satunya lagi botol berisi cairan
        jamu  untuk  kuminum  satu  seloki  tiga  kali  sehari.  Aku  menduga,  di  luar  sisi  humor
        petualanganku  yang  puas  kami  tertawai  malam  itu,  mereka  sudah  mengantisipasi  efek
        samping yang akan terjadi pada tubuhku.


          Kuhentikan segala antibiotik pemberian klinik, memutuskan untuk percaya sepenuhnya
        pada obat dari Olubi. Dalam dua hari, semua gejalaku lenyap tanpa bekas. Begitu juga
        gatal-gatal  di  kulitku.  Beruntus  merah  yang  tadinya  membengkak  mulai  mengempis
        dengan cepat, kemudian mengering, dan akhirnya rontok begitu saja.

          Sebelum pulang, aku menelepon Olubi, menitipkan terima kasih tak terhinggaku untuk
        orang-orang  desanya  yang  sudah  berbagi  obat  tradisional  Maasai.  Dan,  aku  pun  ingin
   147   148   149   150   151   152   153   154   155   156   157