Page 153 - Supernova 4, Partikel
P. 153

menyampaikan terima kasih kepada hewan-hewan di perbukitan Loita, yang karena tak
        bisa kuucapkan langsung maka kutitipkan dalam doa syukurku pada alam raya.

          Berjongkok  di  lubang  dan  di  telaga,  menurunkan  level  mataku  di  bawah  level  mata
        mereka,  telah  mengajariku  untuk  melihat  kerajaan  fauna  dari  sudut  pandang  berbeda.
        Meski  singkat,  aku  telah  diberi  kesempatan  merasakan  hidup  di  tengah-tengah  mereka
        tanpa  memakai  sudut  pandang  manusia.  Ukuranku  yang  “menciut”  memampukanku

        melihat  betapa  megahnya  makhluk-makhluk  itu.  Status  kami  yang  berubah  sejajar
        mengingatkanku bahwa kerajaan manusia dan hewan pada hakikatnya sama. Kami sama-
        sama  penumpang  di  Bumi.  Melalui  kemurahan  hati  Bumi-lah,  kami  mampu
        melangsungkan kehidupan yang sekejap mata ini. Tak ada yang lebih unggul.

          Kembali  ke  London,  ke  kota  modern  yang  dirancang  semaksimal  mungkin  untuk
        kenyamanan  manusia,  di  mana  kita  terlindung  dari  cuaca  ekstrem,  hidup  dalam  terang
        artifisial, didukung kenyamanan barang-barang sintetik, aku berharap aku tidak lupa. Aku

        berharap  hangatnya  air  bersih  dan  melimpahnya  busa  wangi  di  bathtub  ini  tidak
        membuatku amnesia.

          Kita cuma penumpang.

                                                                                                               4.

        Dari  setahun  pertamaku  bekerja  untuk  Paul,  keberadaanku  di  London  dihitung-hitung
        kurang  dari  setengahnya.  Hampir  delapan  bulan  aku  bertugas  di  luar  Inggris.  Aku  tak
        merasa rugi. Kunikmati betul setiap tugas, setiap petualangan.

          Khusus  bulan  ini,  kami  semua  “cuti”.  Paul  dan  teman-temannya  membuat  pameran

        fotografi di London.

          Walau  bukan  terbilang  pameran  besar  dan  baru  dijalankan  dua  kali,  pameran  hasil
        godokan  Paul  Daly  adalah  salah  satu  acara  yang  ditunggu-tunggu  komunitas  pencinta
        fotografi. Selalu ada nama baru, kesegaran baru, dan kisah-kisah menarik yang diungkap
        dalam setiap foto.

          Ada  selusin  nama  yang  karyanya  dipamerkan.  Zarah  Amala  menjadi  salah  satunya.
        Jumlah foto terseleksiku paling sedikit dibandingkan yang lain. Hanya tiga foto yang ikut
        terpajang. Salah satunya adalah foto singa hasil perburuanku di Kenya. Namun, melihat

        namaku di dalam buklet sudah membuatku bangga lebih daripada apa pun.

          Sehari  sebelum  ekshibisi,  sesuatu  yang  tak  kubayangkan  terjadi.  Aku  bingung
        mengenakan baju apa. Selama ini aku sudah terlalu nyaman dengan celana cargo, kaus
        oblong, kemeja lengan panjang, dan sepatu botku, hingga lupa bahwa ada peristiwa sosial
        lain di kehidupan ini yang perlu busana berbeda.

          Untungnya,  aku  sudah  punya  teman  perempuan.  Kimberly  Harris.  Teman  lama  Zach
        yang selalu berada di hidupnya bagai satelit tanpa ada ikatan yang jelas. Kimberly adalah

        seorang  desainer  grafis  yang  juga  punya  hobi  fotografi.  Dia  suka  fotografi  arsitektural,
        lanskap,  tapi  jelas-jelas  menolak  untuk  menguntit  binatang  berminggu-minggu  di  alam
        bebas. Kimberly terang-terangan menyatakan dirinya sebagai “a genuine city girl”. Dia
        tidak bisa hidup jika tidak ada pencakar langit, shopping mall, dan coffee machine.
   148   149   150   151   152   153   154   155   156   157   158