Page 154 - Supernova 4, Partikel
P. 154

Aku menyukai Kim. Sikapnya santai, terbuka, dan intelek. Kim nyaman-nyaman saja
        dengan  kehadiranku  sebagai  penumpang  di  rumah  Zach.  Melihat  bagaimana  keduanya
        berinteraksi,  aku  merasa  Kim  dan  Zach  adalah  pasangan  yang  serasi  dan  saling
        melengkapi.  Entah  apa  yang  membuat  hubungan  mereka  lebih  mirip  musim  mangga.
        Membeludak dalam satu waktu, lalu hilang kembali berbulan-bulan. Seperti ada tombol

        yang bisa dengan cepat mengubah mereka dari sepasang kekasih menjadi sahabat biasa.
        Kim menyebutnya open relationship. Sampai hari ini aku tidak tahu pasti apa artinya.

          Dengan senang hati Kim menolongku untuk masalah kostum besok. “I’ll turn you into a
        fit London chick,” janjinya di telepon.

          Esok petang, ia muncul di apartemen Zach membawa tas plastik panjang. Ketika dibuka,
        aku  nyaris  pingsan.  Kim  membawakan  terusan  di  bawah  lutut,  berlengan  panjang,
        berwarna hitam polos, bahannya elastis mengepas di badan, potongan punggungnya begitu
        rendah sampai aku tak bisa membayangkan harus mengenakan baju dalam model apa.


          “Tenang, Zarah. Saya membawakan segala aksesori yang dibutuhkan untuk gaun cantik
        ini.” Kim kemudian mengeluarkan gelang, jepitan rambut, tas tangan, bra dengan bentuk
        rumit yang tak kumengerti mekanisme pasangnya, dan sebuah boks sepatu.

          “Kim, waktu saya bilang mau pinjam baju, yang ada di bayangan saya itu adalah sehelai
        kemeja layak dan celana kain. Not this!”

          Kim  seperti  tak  mendengar,  “Untung  ukuran  badan  kita  mirip.  Sepatumu  ukuran  6½,
        kan? And your bra is what? 34C? Right?”

          Aku  yakin  ukuran  sepatuku  40,  atau  6½  dalam  standar  ukuran  UK.  Untuk  bra,

        sejujurnya, aku tidak tahu pasti. Sudah lama sekali aku tidak belanja baju dalam. Yang aku
        tidak mengerti adalah bagaimana cara Kim bisa menaksir itu semua hanya dengan melihat.

          Dengan  bantuan  Kim,  aku  berhasil  mengenakan  semua  yang  ia  bawakan.  Dan
        untungnya, Kim memiliki rasa perikemanusiaan yang cukup dengan membawakanku flat
        shoes  dan  bukan  sepatu  hak.  Sepatu  hak  adalah  temuan  manusia  yang  hingga  hari  ini
        belum bisa kuapresiasi.

          Setelah melihat bayanganku sendiri di kaca, aku langsung lunglai.

          “Kim, saya nggak mungkin keluar pakai baju ini,” keluhku.

          Kim menganga. “Darling, you look absolutely stunning!”


          Sebelum aku bisa lanjut protes, Kim sudah lari menggedor kamar Zach. “Zach! Cepat
        keluar! Lihat Zarah!”

          Aku ingin melesak ke dalam sofa dan tak keluar-keluar lagi.

          Zach keluar, sudah berbaju rapi. Ia menatapku dingin. “Who are you? Do I know you?
        What are you doing in my house?” Lalu, ia menengok ke Kim, dan bertanya, “Can I date
        this  stranger?”  Sedetik  kemudian,  Zach  terpingkal-pingkal  sendiri.  “Kim,  tantangan
        terbesar kita adalah menemukan cara untuk membujuk Zarah keluar dari tempat ini, dan
        masih mengenakan baju itu.”
   149   150   151   152   153   154   155   156   157   158   159