Page 20 - Supernova 4, Partikel
P. 20

kampung dengan fungi jenis mikoriza.

          Filamen dari mikoriza akan menjadi semacam perpanjangan tangan dari akar tanaman,
        membuatnya  menyerap  nutrisi  jauh  lebih  cepat.  Setiap  tanaman  yang  diinfeksi  oleh
        mikoriza seperti bekerja dengan tambahan pasukan super. Tanaman yang sudah menikmati
        simbiosis mikoriza dengan tanah jadi lebih kuat menghadapi penyakit dan tahan terhadap
        perubahan lingkungan.  Bisa  dibilang,  tanaman  di  Batu  Luhur  menikmati  vitamin  yang

        membuat mereka punya daya tahan ekstra.

          Di Batu Luhur tidak ada lahan kritis, entah itu saat kemarau atau penghujan. Sejak Ayah
        menghentikan penggunaan pupuk kimia dan obat-obatan sintetis, ia merehabilitasi lapisan
        atas tanah di daerah ladang warga dengan miselium. Bagai menghamparkan permadani
        ajaib,  rehabilitasi  tanah  dengan  miselium  berhasil  menguraikan  tumpukan  polutan  dan
        mengembalikan kesegaran ladang-ladang di Batu Luhur.

          Satu demi satu, konsep perladangan di Batu Luhur juga berubah. Bukan lagi homogen

        satu  tanaman,  melainkan  campur  aduk.  Ayah  menyebutnya  permakultur.  Warga
        menyebutnya  “ladang  acakadut”.  Dari  nama  yang  diberikan  warga,  jelaslah  ketahuan
        betapa mereka awalnya menganggap permakultur adalah lelucon.

          Ayah  lantas  mengedukasi  mereka,  menjelaskan  bahwa  menanam  tanaman  secara
        homogen  dalam  jangka  panjang  akan  merusak  tanah.  Akibatnya,  mereka  akan  semakin
        tergantung  pada  pupuk  kimia  dan  obat-obat  sintetis  demi  mencapai  panen  yang
        memuaskan. “Ladang acakadut” akan meringankan beban warga karena semua makhluk

        hidup  di  ladang  itu  akan  bahu-membahu  dengan  sendirinya.  Di  bawah  tanaman  yang
        butuh banyak sinar matahari diternakkan jamur yang tidak butuh sinar; rontokan daun jadi
        humus;  tahi  ayam  yang  berkeliaran  jadi  pupuk,  tawon  memakani  parasit;  tanaman
        pengusir hama akan melindungi tanaman sayur; dan seterusnya.

          Dari yang tadinya skala kecil, “ladang acakadut” di Batu Luhur berkembang. Semakin
        banyak  dan  semakin  besar.  Ayah  mengajari  warga  untuk  lebih  banyak  mengamati

        ketimbang mengintervensi. Dia bilang, “ladang acakadut” pada awalnya butuh desain dan
        pemikiran manusia, tapi pada akhirnya dialah yang menjadi guru kita.

          Di kampus, Ayah adalah dosen brilian. Ahli Mikologi termuda yang pernah dimiliki IPB.
        Batu  Luhur  dijadikannya  laboratorium  hidup  tempat  ia  mengembangbiakkan  berbagai
        jamur  untuk  konsumsi  dan  obat-obatan.  Orang  semakin  respek  kepada  Ayah  karena
        dedikasinya terhadap penelitian. Meski punya kesempatan luas bekerja di industri dengan
        keahliannya,  ia  memilih  bertahan  di  kampus,  menjadi  dosen.  Aku  rasa  itu  sebetulnya

        strategi Ayah supaya ia bisa meneliti tanpa banyak diganggu.
          Ayah tidak pernah tertarik akan karier akademis, bisnis sampingan, dan sejenisnya. Ia

        membiarkan Batu Luhur yang mengecap keuntungan dari upayanya. Bisa membeli mobil
        VW  Kodok,  sebuah  sepeda,  membelikan  Ibu  kompor  gas  dua  tungku  dan  kulkas  satu
        pintu, sudah menjadi kepuasan besar baginya.

          Hidup kami sederhana, tapi tak pernah kekurangan. Penduduk Batu Luhur membanjiri
        kami dengan beras, sayur, jamur, buah, telur, ikan, daging, apa pun yang mereka produksi.
   15   16   17   18   19   20   21   22   23   24   25