Page 155 - Supernova 4, Partikel
P. 155

Kim  menanggapi  perkataan  Zach  dengan  serius.  Ia  langsung  sigap  berlari,  mengunci
        kamarku, mengantongi kuncinya. “Done. Kamu nggak bisa menyentuh baju-bajumu yang
        lain, Zarah. You’re coming with us in that dress.”





        Belum  pernah  aku  sebegini  canggung.  Aku  merasa  seluruh  dunia  mengamatiku.  Dari
        wajah anonim di jalanan yang lebur dengan lingkungan tanpa diperhatikan, mendadak aku
        menerima lirikan dari kiri-kanan. Bagiku, itu sangat mengganggu.

          Begitu tiba di galeri, aku berharap bisa kembali nyaman di tengah-tengah orang yang
        kukenal. Salah besar.

          Aku dihujani komentar dan aneka reaksi. Termasuk Paul yang berkali-kali menggosok
        matanya, dan berseru, “Blimey!”

          Pukul tujuh tepat, ekshibisi dibuka. Ada tiga puluhan orang yang datang, dan tamu terus

        bertambah. Di sebuah meja bundar, gelas-gelas berisi wine dan camilan kering disediakan.
          Kim datang membawakan segelas anggur putih.


          “Thank you, but I don’t drink,” aku menggeleng.

          “Malam ini harus,” tegasnya. “Dari tadi kamu kaku kayak gagang sapu. This will help
        you relax a little.”

          Aku  mencicip  sedikit.  Mukaku  mengernyit.  Baru  tegukan  ketiga,  mulai  aku  bisa
        menikmati  efek  hangatnya.  Kim  benar.  Minuman  ini  punya  khasiat  mencairkan
        persendian. Aku mulai bisa berkeliling galeri dengan santai tanpa peduli tatapan orang.

          Di dekat foto-fotoku, muncul muka yang kukenal.

          “Gary!”

          Gary, masih dengan rambut keriting dan kacamatanya, memandangku bingung. Perlahan

        ia bergumam, ragu, “Tarzane?”

          Aku  langsung  merangkulnya.  Barulah  Gary  yakin,  manusia  yang  menantang  beruang
        madu dengan tongkat di Pesalat dan manusia yang kini hadir di galeri Kota London dalam
        gaun hitam adalah orang yang sama.

          “Kamu betulan ke London ternyata!” Gary geleng-geleng kepala. “Tadi saya baca nama
        ‘Zarah’ di foto ini, tapi saya nggak nyangka itu kamu.”

          Tiba-tiba orang di belakangnya nyelonong, maju ke depan, dan langsung menyalamiku.
        “Are you Zarah Amala? I love your photos. Brilliant,” pujinya.

          “Zarah, kenalkan, ini Storm,” sela Gary.


          “Storm Bradley,” ia menyebut namanya dengan mantap, “pleased to meet you.”
          “Zarah,” aku mengulang namaku. Mataku tak berkedip. Tubuh tegap itu dibungkus jaket

        kulit  hitam  bermodel  jas,  dipadankan  dengan  setelan  jins  hitam  belel  dan  kaus  oblong
        putih.  Wajahnya  yang  tampan  dan  kekanakan  dibingkai  rambut  ikal  emas  kecokelatan
   150   151   152   153   154   155   156   157   158   159   160