Page 156 - Supernova 4, Partikel
P. 156

dengan gradasi warna tumpang-tindih yang alami. Aku membayangkan rambutnya dapat
        menjadi kopi susu nikmat kalau kucelupkan ke air panas.

          “Saya sekarang lagi belajar fotografi fashion dan portraiture. Storm ini mentorku. He’s
        one of the best in the country,” ujar Gary bangga.

          Pernyataan  Gary  berhasil  memecah  fokusku.  “Fashion?  You  don’t  do  wildlife
        anymore?”

          Gary nyengir. “Paul benar. Binatang membuatku gugup dan serangga membuatku gila.

        Borneo was my last gig. Sejak kejadian di Pesalat, saya banting setir. Sekarang, saya cuma
        pengagum wildlife. Dari jarak aman.”

          “But, you will always be the Nikon lad, won’t you?” kelakarku.

          Gary mesem-mesem. “I crossed to the other side,” katanya setengah berbisik. “Storm is
        using Canon.”

          “Artinya, Paul tidak cukup berpengaruh dalam hidupmu,” aku tergelak.

          “Kamera cuma penunjang,” tiba-tiba Storm menimpali. “Contohnya, kamu, Zarah. You
        have  special  eyes.  Kamu  bisa  melihat  apa  yang  tidak  orang  lihat,”  seperti  tak  rela,  ia

        mengatakannya, “tidak Canon, tidak Nikon, Leica, Hasselblaad, atau apa pun, yang bisa
        menghadirkan mata seperti itu. Hanya alam.” Storm melempar senyumnya kepadaku.

          Kembali aku terpana. Hatiku berdiri di pinggir tebing. Siap jatuh.

          Grup  kecil  kami  tiba-tiba  dirubung.  Perempuan-perempuan.  Salah  seorangnya  Kim.
        Mereka  mengenali  Storm  dan  menatapnya  dengan  tatapan  memuja.  Mereka  lalu  sibuk
        berkenalan.  Melihat  audiens  yang  bertambah,  Gary  juga  bertambah  semangat
        memamerkan mentor barunya.

          “Kalian  tahu?  Storm  baru  masuk  nominasi  World  Press  Photo  di  kategori  Arts  &

        Entertainment  tahun  ini.  On  his  bloody  25th  birthday!”  Saking  semangatnya,  Gary
        menepak punggung Storm sampai pria itu terbatuk sedikit.

          Rahangku dan Kim sama-sama jatuh. Secara berbarengan kami berseru spontan:

          “WPP? Congratulation!” seru Kim.

          “Happy birthday!” seruku.

          Sampai  sekarang,  aku  tetap  tidak  tahu  kenapa  lebih  tertarik  pada  peristiwa  ulang
        tahunnya  daripada  WPP  Award.  Namun,  justru  karena  itu,  Storm  menatapku  dengan
        tatapan yang tak lagi sama.

          Grup kami terus membesar. Aku yakin semua itu karena medan gravitasi seorang Storm
        Bradley.  Orang-orang  datang  hanya  untuk  berkenalan  atau  mencuri-curi  obrolan

        dengannya. Storm terdominasi. Aku pun menyingkir pelan-pelan.

          Aku  menggamit  Paul  yang  berdiri  tak  jauh  dari  sana,  berbisik,  “Gary  is  now  into
        fashion.”

          “Saya sudah lama menduga, kok,” Paul terkekeh. “Dia nggak bakalan bertahan di A-
   151   152   153   154   155   156   157   158   159   160   161