Page 157 - Supernova 4, Partikel
P. 157

Team. Tapi dia beruntung bisa masuk ke lingkarannya Storm. He’s in good hands.”

          “Kamu kenal Storm?”

          “Pertanyaannya  adalah  siapa  yang  nggak  kenal  Storm?”  Paul  tersenyum  lebar.  “Dia
        fotografer fashion dan iklan yang lagi naik daun saat ini. Talented, handsome, and he’s still
        bloody young. Lucky bugger.”

          Dari kejauhan, aku mengamati Storm. Nama yang tidak tepat. Seharusnya ia dinamai
        Serenity  karena  lebih  mirip  Laut  Mati  yang  menghampar  tanpa  gejolak.  Dari  caranya

        berdiri, tersenyum, menatap, Storm seolah dibungkus dalam keheningan Buddha. Sorot
        mata Storm bersih, menyorot tanpa pretensi seperti tatapan bayi. Tapi, justru di sanalah
        hati kita direnggut, dikristalkan menjadi garam.

          Ada magnet dalam dirinya yang membuatku bertingkah aneh, mencuri-curi pandang dan
        selalu ketahuan karena memang kurang pengalaman. Di galeri luas dengan tamu tersebar
        ke dua lantai, Storm dengan mudah mengidentifikasi adanya perhatian yang berlebih. Ia
        menatapku yang sedang menatapnya, dan langsung aku membuang muka, jengah.


          Akhirnya,  kuputuskan  untuk  menjauh  sama  sekali.  Pindah  ke  Lantai  2.  Sejenak
        melupakan pusaran magnetis di Lantai 1, yang sialnya terjadi di dekat fotoku dan tak ada
        gelagat mereka pindah tempat. Aku jadi tidak bisa mendekati fotoku sendiri.

          Waktu  berjalan  dan  jumlah  tamu  kian  berkurang.  Aku  memberanikan  diri  ke  bawah,
        berharap kumpulan itu sudah tak ada. Di tangga aku berpapasan dengan Zach.

          “There you are! Kamu harusnya di bawah. Banyak yang menanyakanmu,” tegurnya.

          Zach  menggiringku  kembali  ke  tempat  yang  sama.  Tempat  Storm  bersemayam.
        Magnetnya telah sengaja menarikku datang.

          Dan,  dimulailah  lagi.  Jantungku  yang  berdebar  lebih  kencang.  Napasku  yang  jadi

        panjang-panjang. Perutku yang jadi melilit. Mataku yang seolah punya kehendak sendiri
        untuk melirik ke arahnya setiap ada kesempatan. Semua ini membingungkan.

          Terpaksa kuambil lagi segelas wine dari segelintir gelas yang tersisa di meja bundar tadi.
        Berharap kesembuhan. Aku ingin terbebas dari fenomena aneh ini.

          Ternyata, selain membuat lantai oleng, tak ada bantuan tambahan lain yang kudapatkan
        dari minuman itu. Seiring malam yang menua, lingkaran itu kian mengecil. Meninggalkan
        hanya aku dan dia. Aku… terapung di Laut Mati.

          Pembicaraanku dan Storm sudah tak lagi menyangkut fotografi. Ia sangat tertarik dengan

        asal  usulku.  Menurutnya,  mukaku  sangat  unik.  Aku  menjelaskan  bahwa  darahku
        campuran Arab dan Sunda. Dan, tentu saja, aku jadi harus menjelaskan apa itu Sunda, apa
        itu Jawa Barat, dan apa itu Indonesia.

          “I  see,”  ia  manggut-manggut,  “tapi,  yang  saya  nggak  ngerti  adalah  bagaimana
        perempuan seperti kamu bisa jadi wildlife fotografer?”

          Aku  mengerutkan  kening.  Perempuan  seperti  aku?  Tidak  kupahami  maksud
        pertanyaannya. Memangnya aku perempuan seperti apa?
   152   153   154   155   156   157   158   159   160   161   162