Page 158 - Supernova 4, Partikel
P. 158

Storm  rikuh  sendiri,  geleng-geleng  kepala,  “That  doesn’t  come  out  right,  does  it?”
        ralatnya.  “Okay,  what  I’m  trying  to  say  is,  you  are,  by  far,  the  most  beautiful  wildlife
        photographer I’ve ever met.”

          Aku bengong sejenak. Setelah itu, tawaku meledak tanpa bisa kutahan. “Kamu tertipu.
        Zarah  yang  sebenarnya  adalah  Zarah  yang  nyemplung  di  air  berlumpur  dan  memotret
        singa ini. Yang kamu lihat sekarang? Ini cuma ilusi,” dan entah karena dua gelas wine

        yang mengalir dalam darahku yang perawan alkohol, aku pun nekat menambahkan, “baju
        ini, dan semua yang ada di badan saya sekarang, adalah… pin-ja-man.”

          Storm ikut terpingkal. “Brutal honesty. I like that,” ujarnya. Tawa itu menyurut, berubah
        menjadi sesungging senyum yang tak akan kulupakan seumur hidup. “And I fancy you,”
        sambungnya.

          Tawaku menghilang, diganti dengan cengang. Mukaku pasti sudah tidak keruan.

          “I’m just trying to be as brutally honest,” Storm mengangkat bahu.

          Hadirlah ia. Orang yang langsung menduduki peringkat nol dalam hidupku. Dibutuhkan

        22 tahun untuk menemukannya. Dan, cukup dua menit untuk menyadari aku jatuh cinta.
        Bukan. Bukan lagi jatuh. Aku terjun bebas. Tanpa tali pengaman. Tanpa lagi peduli apa
        yang menyambutku di dasar sana—kalau memang ada dasarnya.

                                                                                                               5.

        Malam itu, aku tidak pulang ke tempat Zach. Dengan sopan dan manis Storm mengajakku
        singgah ke apartemennya. Diiringi tatapan aneka rupa dari teman-teman kami yang tersisa
        di galeri, aku dan Storm pamit.

          Storm tinggal di apartemen keren bermodel loft dengan interior gaya industrial. Terdapat

        jendela-jendela  besar  yang  menghadap  kelap-kelip  lampu  kota  di  daerah  Hoxton.  Tapi,
        aku tak peduli itu semua. Fokusku hanya ia.

          Storm menyuguhiku  anggur  Merlot  berumur  sepuluh  tahun  yang  ketika  lewat  tengah
        malam  tahu-tahu  menjebol  mulut  ini  untuk  bercerita  segalanya.  Storm  begitu  terkesan,
        terutama pada cerita-ceritaku tentang Ayah.

          Lewat pukul dua dini hari, kami mulai membahas topik lain. Pria dan wanita. Jantan dan
        betina.

          Aku mengoceh, “Betina memproduksi sel telurnya jaauuuh… lebih sedikit ketimbang

        jantan  memproduksi  sperma.  Kamu  bagi  saja,  berapa  besar  investasi  si  betina  di  satu
        telurnya, lalu angka yang sama dibagi untuk sekian juta sperma jantan. Yang berlaku di
        sini  cuma  hukum  ekonomi  sederhana:  ketika  kedua  pihak  berusaha  memaksimalkan
        probabilitas  kawin  masing-masing,  jelas-jelas  si  betina  akan  hati-hati  memilih  partner,
        sementara  si  jantan  akan  mencari  sebanyak  mungkin  partner  supaya  nggak  rugi.  Jadi,
        jangan heran kalau perempuan itu pemilih….”

          “Dan, laki-laki itu mata keranjang,” sambungnya.

          “Setuju,” sahutku. “It  was  meant  to  be.  Betina  memilih  kualitas,  dan  jantan  memilih

        kuantitas. Kamu boleh tanya ke nyamuk, kodok, burung elang….”
   153   154   155   156   157   158   159   160   161   162   163