Page 159 - Supernova 4, Partikel
P. 159

“Tapi, burung banyak yang monogami,” selanya.

          “Kamu tahu frekuensi elang tiram jantan gituan sama betinanya?”

          “Berapa?”

          “Tiga ratus kali sehari.”

          Tawa Storm meledak.

          “Itulah  konsekuensi  dia  bermonogami.  Dia  harus  memastikan  kalau  partnernya  tidak
        dihamili jantan lain selama masa subur elang tiram betina yang supersingkat.”

          “Kalau kodok?”

          “They’re the worst!” Aku terbahak. “Dia gituan sampai betinanya bertelur!”

          “Kenapa  saya  tiba-tiba  minder  jadi  manusia,  ya?”  gumamnya  seraya  mengisi  penuh

        gelas anggurku.

          “Tahu, nggak, belalang betina ngapain kalau kawin?”

          “Apa?” Ia menyorongkan gelas untuk kuminum. Aku menenggak dua teguk penuh.

          “Dia memakan si jantan,” jawabku. “Pertama kepala dulu, baru toraksnya. Sementara
        perut dibiarkan utuh sampai sperma si cowok tertransfer ke tubuhnya.”

          “Thank God you’re not a female mantis,” seru Storm. Spontan.

          Ada  sekian  detik  yang  senyap  ketika  kami  berdua  berusaha  mencerna  celetukan  tak
        sengajanya  itu.  Aku,  yang  berpikir:  apa  maksudnya?  Dan  Storm,  yang  barangkali
        membatin: ooops.

          Dengan  cepat  otakku  berputar  untuk  menimpali  kesunyian  tadi,  “Tapi,  yang  lebih

        menarik lagi adalah bagaimana para jantan berusaha.”

          Senyum  relaks  langsung  lepas  di  wajahnya.  “Topik  menarik,”  ia  berkata  antusias.
        Mukanya maju menghampiri mukaku.

          “Are you familiar with satin bowerbirds?” tanyaku.

          “Enlighten me.”

          “Mereka mengumpulkan apa saja yang berwarna biru, you name it, tutup botol, sedotan
        plastik,  tali,  kertas…  pokoknya  biru!  Bagi  mereka,  nggak  ada  warna  lain  seindah  biru.
        Terus, mereka kumpulkan semua itu di dekat sarangnya, menari-nari seharian penuh kayak

        orang gila. Kalau biru nggak berhasil, mereka nggak putus asa. Mereka akan cari warna
        lain.  Selama  itu,  si  betina  cuma  memandangi  dari  jauh.  Kalau  dia  tertarik,  baru  dia
        mendekat.”

          “Hmmm,” Storm bergumam sambil manggut-manggut, tampak berpikir serius.

          “Bahkan, lalat, Storm. Mereka selalu kasih persembahan buat betinanya, nanti sambil si
        betina makan, si jantannya baru gituan.”

          “Apa, sih, ‘gituan’? Kamu selalu pakai istilah itu dari tadi,” potongnya.
   154   155   156   157   158   159   160   161   162   163   164