Page 160 - Supernova 4, Partikel
P. 160

“Well, you know—”

          “Apa? Just say it.”

          “Don’t make me.”

          “Zarah, you’re an adult, for heaven’s sake.”

          Storm tidak akan mengerti betapa susahnya ini bagiku. Aku sudah akrab dengan konsep
        reproduksi, baik seksual maupun aseksual, lebih awal daripada semua anak di negeriku,
        bahkan  mungkin  lebih  awal  dibandingkan  Storm.  Masalahnya,  aku  hanya  mampu

        membicarakan  seks  dalam  konteks  ilmu  pengetahuan.  Tidak  dalam  konteks  sosial,
        pergaulan,  pria-wanita  di  apartemen  sunyi  dini  hari  dengan  botol  Merlot  yang  hampir
        kosong.

          “Zarah?” panggilnya halus. “Say it.”

          “Coitus,” jawabku setengah berkumur. “Happy?”

          Ia tersenyum dan menggeleng pelan. Giginya berderet rapi. Banyak yang bilang susunan
        geligi orang Inggris rata-rata berantakan. Tidak yang satu ini.

          “Shag,” balasnya. “The male fly shags the female while she’s eating.”

          “Whatever,” aku mengangkat bahu. Kupalingkan muka ini segera karena Storm sedang

        menatapku dengan ketenangan yang tak sanggup kupadani.
          “I’m more like that bowerbird,”  ia  berkata  lagi.  “Blue is my color.  Dan,  saya  nggak

        keberatan bertingkah sinting demi perempuan yang saya suka.”

          Ragu-ragu, aku melirik. Ternyata Storm sedang meraih selembar tisu makannya yang
        berwarna  biru  laut,  membentuknya  menjadi  kerucut,  lalu  ia  tuangkan  sisa  isi  cokelat
        M&M ke dalamnya. Storm menatap karyanya puas. Ia menyorongkannya kepadaku, “Buat
        kamu.”

          Canggung, kuterima persembahannya. Dan, lihatlah wajah itu. Wajah yang membuatku

        memuja  geometri.  Dari  sudut  ini,  yang  kulihat  adalah  pola-pola  geometris  yang  indah:
        hidung segitiga lancip, lekukan dagu mengotak, tulang pipi membulat, alis bergaris tegas.

          “What’s the matter?” tanyanya. “Kamu selalu kelihatan berpikir, Zarah.”

          “Saya  nggak  memikirkan  apa-apa,  kok,”  aku  terbata.  Kau  membuatku  merasa  buruk
        rupa.

          “Apa pendapat kamu tentang hadiah biru saya? Suka?” Storm bertanya sekaligus tambah
        mendekat. Matanya bercahaya. Menerangi satu sudut gelap dalam diriku yang selama ini
        diabaikan karena kuanggap gang buntu yang tak akan membawaku ke mana-mana.

          “Kepala  ini,”  aku  menggoyangkan  kepalaku,  “kepala  saya  serasa  hilang.  Kulit  saya
        rasanya tebal. Numb.”


          “Then feel this,” ujarnya seraya mendaratkan kedua telapak tangannya yang hangat di
        pipiku, menempelkan dahinya dengan dahiku.

          Jarak wajah kami dekat sekali. Aku jadi pusing. “You’re going to kiss me, aren’t you?”
   155   156   157   158   159   160   161   162   163   164   165