Page 161 - Supernova 4, Partikel
P. 161

celetukku. Entah dari pelosok mana otakku kalimat itu terlontar. Barangkali gang terlarang
        itu sedang kumasuki, yang dalam koridornya aku dibuat menjadi manusia tak bermalu.
        Dan, butuh lonjakan kadar alkohol dalam darah untuk menuju ke sana.

          “Maybe.”

          “Seumur hidup, saya belum pernah dicium,” ujarku ringan dengan cengiran bodoh. Oh,
        bodoh betul! kumaki diriku sendiri. Jangan-jangan karena inilah mabuk diharamkan. Ia

        melucuti semua tameng kemanusiaan, mendekatkan kita dengan naluri kebinatangan yang
        tertanam jujur dalam DNA.

          “Liar.”

          Telapak tanganku mengangkat, berbarengan dengan satu serdawa kecil. “I’m serious!”
        seruku. “Swear to God.”

          “I thought you didn’t believe in God.”

          “I honestly don’t know what to believe,” bisikku.

          “Kalau  kamu  sungguhan  jujur,  kalau  kamu  yang  umurnya  dua  puluh  dua  tahun  ini
        bahkan belum pernah dicium, berarti yang lainnya juga belum?”

          “Yang lainnya?”


          “You know, sexual activities.”
          Tawaku lebih seru lagi. Aku menggelengkan kepala.


          Dan tiba-tiba, dengan ketenangan meditatifnya, ia menempelkan bibirnya di atas bibirku.

          Lembap.

          Empuk.

          Saat itu, aku tidak tahu apakah itu yang namanya berciuman. Bibirnya cuma menempel.
        Lama sekali. Sampai aku merasa harus mengambil tindakan. Kugerakkan mulutku sedikit,
        seolah ingin mencuri empuk itu. Kubayangkanlah diri ini pasir isap, dan ia tersedot ke
        dalam.  Bibirnya  pun  memiliki  kekuatan  tersendiri  yang  tak  menyerah  begitu  saja,  dan
        sekali-sekali akulah yang diisapnya masuk.

          “See? You sure can kiss,” ia berkata lembut, “a natural kisser.”


          Natural. Kata yang amat tepat. Tahukah ia bahwa naluri berciuman juga ada di hampir
        semua hewan—

          “Don’t think,”  tahu-tahu  ia  menyergah,  seakan  menyaksikan  pikiranku  yang  menari-
        nari. Ia jauhkan wajahnya sedikit hingga mata kami bisa saling beradu tanpa jadi juling.

          Storm benar, rasionalitas memang musuh utama dalam agenda setiap gen di bumi ini.
        Menebalkan rantai reaksi kita sehingga tingkah laku manusia sering kali membingungkan,
        terlalu ragu-ragu—

          “Zarah,  will  you  please…  stop  thinking?”  Suara  halusnya  memohon.  Ia  meniup

        mukaku. Seolah ingin membangunkan seorang juru mimpi dari halusinasi panjang… tapi,
   156   157   158   159   160   161   162   163   164   165   166