Page 162 - Supernova 4, Partikel
P. 162

jangan ambil perasaan ini. Perasaan ingin lebur, bersatu dengan lautnya, hingga untuk
        sesaat  segala  pertanyaan  menguap  hilang.  Dan,  akulah  semua  jawaban.  Garam  di  Laut
        Mati-nya.

          “No more thinking,” bisikku. “I promise.”

          Malam  itu  aku  mengetahui  satu  rahasia.  Rahasia  difusi.  Rahasia  es  batu  yang
        bergemerencing dalam segelas soda dingin, semakin lama semakin lebur sampai jadi satu.

        Bergemerencing dan melelehlah kami berdua. Bersatu.




        Storm  terdengar  berkecipak-kecipuk  di  kamar  mandi,  sibuk  mencuci  sarung  bantal  dan
        seprai. Noda darahku yang masih segar.

          “I  swear.  Saya  belum  pernah  melakukan  ini  sebelumnya.”  Bercampur  dengan  suara
        kucuran air keran, kudengar ia berseru dari dalam sana.

          Aku  menyerukan  kalimat  yang  persis  sama  di  dalam  hati,  diiringi  senyum  rapuh  dan
        tubuh  telanjangku  yang  terkulai  pasrah,  menatap  langit-langit,  mengingat  seluruh

        perjalanan hidupku hingga sampai di tempat tidur ini, ekspresi melongonya ketika ia tahu
        aku  tidak  bercanda  tentang  keperawananku.  Dengan  muka  kebingungan  Storm  sampai
        harus  mengganjalkan  bantal  di  bawah  pinggulku  karena  aku  cuma  bisa  diam  seperti
        gedebok pisang. Semua ini pasti lebih dari sekadar naluri. Aku telah mencintai. Hmmm.
        Mungkin.  Ingat,  ada  bagian  dari  otakmu  yang  akan  selalu  merasionalisasikan

        kebinatanganmu,  hasrat  tubuhmu  yang  sudah  matang  dan  memang  siap  dan  ingin
        disetubuhi,  dengan  banjiran  konsep  muluk  seperti  jatuh  cinta,  asmara,  dan  entah  apa
        lagi… aduh, kenapa aku selalu skeptis—

          “Are  you  okay,  love?”  Storm  berlutut  di  samping  tempat  tidur,  membelai  rambutku
        lembut. Dengan hati-hati ditariknya selimut, menutupi tubuhku agar tidak “masuk angin”.
        Sebuah konsep yang tidak ia mengerti, tapi ia turuti. Demi aku.

          Adegan  sederhana  itu  berjalan  tanpa  gejolak  tapi  pasti,  seperti  fajar.  Selalu  baru,
        sekaligus  kekal.  Ada  rasa  akrab  yang  membuatku  merasa  semua  ini  sudah  ditakdirkan.

        Perasaan pulang ke rumah. Kutatap wajah indahnya, yang menjadikan dunia ikut indah,
        dan aku mulai menangis. Terisak-isak.

          “Oh, no, don’t cry….” Ia menidurkan mukaku di atas dadanya, seperti menyambut bayi
        yang rindu ibu.

          Pertemuan dua insan bagaikan pertemuan dua unsur kimia. Bila sebuah reaksi terjadi,
        kedua  unsur  tadi  akan  bertransformasi,  menjadi  sesuatu  yang  tak  diduga  sebelumnya.
        Sesuatu dalam diriku yang tak pernah kutahu berontak, mengoyak keluar, dan kudapatkan

        dunia baru yang bening. Damai.

                                                                                                               6.

        “Morning, sleepyhead.”

          Mataku  membuka,  mendapatkan  Storm  berlutut  di  sampingku,  telanjang  dada,
        memunggungi  sorot  matahari  dari  jendela  yang  membingkai  sosoknya  dengan  garis
   157   158   159   160   161   162   163   164   165   166   167