Page 163 - Supernova 4, Partikel
P. 163

cahaya.

          “Breakfast is ready.” Storm mengecup keningku.

          “Ada apa dengan pria-pria Inggris dan sarapan? Zach was making me breakfast, and now
        you….”

          “Already on our first date, you’re trying to make me jealous?”

          “Not Zach. He’s a like a brother to me,” aku tertawa kecil. “Dan, orang satu itu memang
        terobsesi bikin sarapan. Saya cuma curiga, jangan-jangan itu tendensi pria-pria Inggris.”

          “Well,  saya  cuma  bikin  sarapan  untuk  orang  yang  saya  anggap  spesial,”  tandasnya.

        Storm  lalu  berdiri,  celana  boxer-nya  menggantung  sedikit  di  bawah  tulang  panggul.
        Rambut halusnya yang masih acak-acakan menutupi sebagian kening. Storm mengibasnya
        ringan. Semua gerakan yang sepintas tak punya arti terasa begitu indah ketika Storm yang
        melakukannya. Lagi-lagi, ia membuatku merasa buruk rupa.

          “Zarah?” Melihat perubahan air mukaku, Storm kembali duduk di tepi ranjang.

          “Sehabis sarapan ini, saya akan kembali jadi Zarah dalam celana cargo belel, T-shirt,
        dan sepatu bot kotor. Zarah yang tadi malam mungkin cuma terjadi sekali dan tidak akan

        kembali lagi. Will this Zarah still be special to you?”
          Storm  menggenggam  tanganku,  wajahnya  mendekat.  “Tanpa  saya  sekalipun,  kamu

        adalah Zarah yang spesial. Ngerti?” katanya lembut.

          “Dalam  tiga  minggu,  saya  sudah  harus  berangkat  lagi  ke  Afrika,  dan  saya  baru  bisa
        ketemu kamu sebulan lagi….”

          “Kalau  begitu,  tiga  minggu  ini  akan  saya  gunakan  sebaik-baiknya  untuk  mengenal
        kamu,” potong Storm. “Sebulan di Afrika? So, what? You have work to do, and I have
        mine as well. Setelah itu, kita bakal punya waktu lagi bersama. Ya, kan?”

          Cara  Storm  mengatakannya,  yang  terkesan  memastikan  suatu  masa  depan  bagi
        hubungan kami, membuatku merinding.


          “Bukan  gaun  kamu.  Bukan  dandanan  kamu.  Bukan  pekerjaan  kamu.  But  this,”  ia
        mengecup bibirku, “this is what matters. Zarah under my sheet, honest and naked.”

          “Jadi, kamu kepingin saya begini terus? Naked? Under your sheet?” Aku tertawa.

          “You forgot ‘honest’, but yes, please stay this way.” Bibirnya kembali mendarat di atas
        bibirku. Dan, kali ini Storm ikut menyisip ke dalam selimut.

          Baru sekitar sejam kemudian, sarapan kami tersentuh.





        Aku  baru  kembali  ke  apartemen  Zach  setelah  makan  siang,  masih  dalam  kostum  yang
        sama dengan waktu semalam aku pergi. Namun, semua yang melihatku tahu, aku kembali
        sebagai manusia yang berbeda.

          Ada  Kim,  Zach,  dan  Paul.  Aku  curiga  mereka  sengaja  berkumpul  hanya  untuk
   158   159   160   161   162   163   164   165   166   167   168