Page 164 - Supernova 4, Partikel
P. 164

menungguku pulang.

          “So, Storm Bradley, eh?” Zach berdeham.

          “Gaunku berhasil sampai ke apartemen Storm Bradley, bermalam, dan kembali dengan
        kenangan indah,” kata Kim. Manyun.

          Aku  hanya  tersenyum,  melepas  sepatu,  dan  duduk  bersama  dengan  mereka  di  meja
        makan. Tidak berkata apa-apa.

          Sambil  memegang  cangkirnya,  berdiri  menyandar  di  kulkas,  Paul  tahu-tahu  bersuara,

        “Are you in love, Missy?”

          Kami semua terkejut dengan pertanyaan yang tak terduga-duga itu.

          “Paul. She just met him yesterday,” protes Kim.

          “Terus, kenapa?” Paul bertanya balik, polos.

          “I am,” jawabku. “I’m in love.”

          “Fantastic!” Paul mengangkat cangkirnya. “Now, can we all move on with our lives?”




        Hari-hari yang asing.

          Ponselku, yang tadinya cuma berfungsi ketika bertugas atau menghubungi layanan antar
        makanan saat lapar mendadak, kini hampir setiap saat kugenggam. Aku menanti-nanti saat

        Storm menelepon atau mengirim pesan singkat. Aku menanti-nanti saat aku punya alasan
        untuk  mengajaknya  bicara,  atau  saat  rangkaian  kalimat  mesra  lewat  di  kepala  untuk
        kukirim kepadanya. Jika ide tak lewat, dan alasan menelepon tak ada, aku akan membaca
        ulang pesan-pesan singkatnya. Merapalnya dalam hati bagai jampi.

          Hari-hariku  bertambah  ganjil  karena  aku  tidak  semangat  pergi  bertugas.  Biasanya,
        akulah yang resah duluan jika sudah kelamaan di London. Sekarang, ekstra sehari-dua hari
        di London adalah anugerah yang bisa membuatku sujud menyembah Paul.


          Keanehan  ini  menggila  karena  sekarang  aku  melihat  Storm  di  mana-mana.  Di  lekuk
        bukit Padang Pasir Sossusvlei, yang kulihat adalah lekuk tubuhnya. Di Danau Wuhua Hai,
        yang  kulamunkan  adalah  ketenangannya,  kejernihan  tatapnya.  Memandangi  deru  Air
        Terjun  Victoria,  yang  kuingat  adalah  kami  berdua,  bergulung  dalam  hasrat  yang
        bergemuruh,  berpeluh,  ditutup  pelukan  manis  dan  panjang,  seindah  pelangi  abadi  yang
        membusur di air terjun megah itu, yang ingin kupetik jika mungkin, untuk kubebatkan
        pada tubuh kami yang telanjang.


          Aku cinta alam dan cinta pekerjaanku, tapi cinta yang baru kukenal ini bagaikan badai
        dahsyat  yang  menyapu  seluruh  eksistensiku,  menguasai  sel-sel  tubuhku  dan  butir-butir
        pikirku.  Tak  pernah  kukira  cinta  punya  bentuk  lain  yang  sedemikian  digdaya.  Begitu
        berkuasa dan mendominasi, aku hanya bisa tersungkur di kakinya. Sukarela.

          Pada setiap hari bebas yang kupunya di London, entah itu seminggu atau sebulan, aku
        dan  Storm  bisa  dipastikan  selalu  bersama.  Rumah  Zach,  yang  secara  status  sah  masih
   159   160   161   162   163   164   165   166   167   168   169