Page 21 - Supernova 4, Partikel
P. 21

Di  rumah,  Ayah  adalah  pahlawan.  Dengan  seabrek  kegiatannya,  tak  pernah  ia  absen
        mengajarku, membacakan cerita setiap malam, mengantar-jemput Ibu. Satu-satunya saat
        ketika ia bisa sendiri hanyalah malam hari saat istri dan anaknya tertidur. Barulah ia punya
        kesempatan mengurung diri di ruang kerjanya, dalam tumpukan buku, kertas, dan berkas.
        Sering kudapati wajah Ayah yang kelelahan karena kurang tidur.

          Kampus,  rumah,  Batu  Luhur,  adalah  segitiga  eksistensinya.  Dengan  segala  kekuatan

        yang  tersisa,  ia  jaga  segitiga  eksistensinya  tanpa  hilang  keseimbangan.  Bagiku,  hidup
        kami sempurna. Ayah adalah sempurna. Dan, pikiran kanak-kanakku mengira kami akan
        hidup selamanya dalam kesempurnaan itu.

          Akan tetapi, dengan cepat hidup mengajariku pelajaran paling penting: tiada yang abadi
        di muka bumi.

                                                                                                               4.

        Dengan  segala  jasanya,  Ayah  punya  akses  ke  semua  celah  di  Batu  Luhur.  Dan,  lama-
        kelamaan aku mengerti, semua itu—permakultur, pupuk mikoriza, rehabilitasi miselium,

        jamur konsumsi yang dinikmati setiap harinya oleh warga—hanyalah batu loncatan Ayah
        menuju tujuan yang lebih besar. Sebuah tempat yang merupakan obsesi hidupnya. Sebuah
        tempat yang ditakuti dan terlarang bagi semua orang, kecuali Ayah. Tempat yang kelak
        menghancurkannya.

          Mereka menamakannya Bukit Jambul. Dinamai demikian karena bentuknya yang seperti
        jambul  di  tengah  kepala  gundul.  Sementara  bukit  lain  hanya  berpohon  besar  satu-dua,
        bahkan rata oleh sawah dan ladang, Bukit Jambul adalah rumah bagi entah berapa banyak

        pohon  raksasa  yang  menutupi  sekujur  tanahnya.  Saking  mencoloknya,  Bukit  Jambul
        seperti dicaplok dari tempat lain. Diletakkan di sana oleh tangan ajaib.

          Bukit itu tak terlalu besar, tapi pohon-pohonnya yang tumbuh menjulang tak terganggu
        membuat  bukit  itu  mencuat  megah  bagai  mahkota  burung  merak.  Terlihat  dari  segala
        penjuru dari jarak jauh sekalipun. Ayah tak tahu pasti berapa umur hutan Bukit Jambul.
        Melihat dari bentuk dan besar pohonnya, ia menaksir ribuan tahun. Menurut Ayah, Bukit
        Jambul ibarat miniatur alam ini jika tidak ada ladang, sawah, atau manusia.


          Tentunya ada alasan mengapa Bukit Jambul bertahan seperti itu. Sederhana saja. Tak ada
        manusia yang berani memasukinya.

          Aku  sudah  kenyang  dengan  berbagai  kisah  misterius  seputar  Bukit  Jambul  dari
        penduduk kampung. Hampir setiap orang punya versinya sendiri.

          Ada yang bilang, pohon-pohon di sana “hidup” dan punya kekuatan sakti, barang siapa
        mencoba  menebang  pohon  di  sana  langsung  kesurupan  sebelum  berhasil  menancapkan
        kapak untuk kali kedua. Ada yang bilang, hutan itu markas Prabu Siliwangi dan pasukan
        gaibnya. Versi lebih bombastis lain bilang, di sana adalah pusat jin satu dunia berkumpul.


          Aku tak bisa membayangkan berapa banyak jin sedunia kalau dikumpulkan, dan apakah
        Bukit Jambul betulan muat untuk itu. Tapi, apa pun cerita mistis, horor, klenik yang bisa
        difantasikan manusia, Bukit Jambul akan selalu menjadi lokasi ideal.

          Aku punya versiku sendiri. Bukit Jambul adalah sarang terakhir dinosaurus yang tersisa.
   16   17   18   19   20   21   22   23   24   25   26