Page 165 - Supernova 4, Partikel
P. 165

menjadi  tempat  tinggalku,  berubah  fungsi  menjadi  kantor.  Kutempati  hanya  kalau  aku
        benar-benar harus bekerja dan bertemu langsung dengan timku untuk briefing. Aku rindu
        sarapan buatan Zach, tapi sarapan di samping Storm adalah penyambung hidupku.

          Cuma  satu  yang  masih  mengganjal.  Setahuku  dari  teman-teman  sekolah  dulu,  setiap
        pasangan kekasih pasti punya tanggal jadian. Konsekuensinya, mereka punya tolok ukur
        waktu yang pasti untuk merayakan hari jadi, dan mereka punya tanggal pasti jika kelak

        putus.  Hubunganku  dan  Storm  bergulir  begitu  saja.  Aku  tak  tahu  pasti  kapan  aku  dan
        Storm  “jadian”,  dan  apakah  betul  kami  resmi  pacaran,  kendati  setiap  hari  kami  saling
        bertukar ucapan cinta. Aku curiga, hubungan macam musim mangga ala Zach dan Kim
        adalah standar baku di sini.

          Aku menanyakan soal itu kepada Kim suatu hari, dan ia menjawab tenang, “Itu karena
        kamu telat delapan tahun dibandingkan orang-orang normal, Zarah.”

          “Maksudmu?”

          “Umur kamu berapa sekarang? Dua pukuh dua? Saya mulai pacaran umur empat belas.

        Umur  segitu,  tanggal  jadian  jadi  masalah  penting  biar  bisa  ditulis  di  diary,  di  kartu,
        dipamer  ke  cewek-cewek  di  sekolah.  Ya,  kan?  Lewat  umur  dua  puluh,  hal-hal  begitu
        nggak penting lagi. You fancy a bloke, the bloke fancies you, you date a couple of times,
        you have sex along the way, if things work out, great, if not, you will just have to call it off
        and move on.”

          “Sesimpel itu?”

          “Do you have any better model?”

          “Oke, oke. Jadi, saya telat delapan tahun?”


          “Yes. You’re in the twenty’s world with a fourteen year-old mind.”

          “T–tapi… jadi, saya dan Storm itu apa? Pacaran? Teman kencan?”

          “See? That’s a fourteen year-old girl’s question!”

          Aku terdiam. Apa yang dikatakan Kim sama sekali tidak simpel. Simpel bagiku adalah
        iya ya iya, tidak ya tidak. Dalam banyak hal, aku tak suka abu-abu. Apa yang kurasakan
        bagi Storm sama sekali bukan abu-abu. Segenap diriku mencintainya, memujanya. Tanpa
        ragu.  Jadi,  ketika  ditanya:  dia siapa?  Apa  yang  harus  kujawab?  Teman  dekat?  Pacar?
        Orang yang sedang kucintai mati-matian? Yang terakhir memang tepat. Tapi, kepanjangan

        untuk  diucap.  Tidakkah  ada  satu  kata  praktis  di  dunia  ini  yang  bisa  kupakai  untuk
        menerangkan posisi Storm dalam hidupku?




        Empat bulan sesudah pertemuan pertama kami, aku dan Storm makan malam di restoran
        Italia  kesayangannya  di  Soho.  Butuh  dua  minggu  untuk  Storm  mendapatkan  reservasi.
        Begitu berhasil, Storm senang bukan main. Baginya, makan malam kami di sana menjadi
        kencan spesial.


          Ketika sedang makan, tiga perempuan mahatinggi tahu-tahu menghampiri meja kami.
   160   161   162   163   164   165   166   167   168   169   170