Page 166 - Supernova 4, Partikel
P. 166

Dari  bentuk  mereka  yang  sempurna,  dandanan  bak  sampul  Vogue,  kasak-kusuk  orang
        ketika melihat ketiganya muncul, aku langsung tahu mereka adalah model-model papan
        atas Inggris, yang sayangnya, tak kutahu namanya seorang pun.

          “Storm! What a lovely surprise.” Salah seorang dari mereka, yang berambut pirang dan
        paling cantik, mengecup ringan pipi Storm.

          “Angelica,” Storm tersenyum sopan, “ladies, lovely to see you all.”

          “Kamu ikut ke Milan minggu depan?” Seorang lagi bertanya.


          Storm menggeleng. “Saya ada proyek portraiture di sini. Big company. Lots of people.
        My hands are tied.”

          Aku diam membatu dengan sesungging senyum kaku. Ketiga perempuan itu juga mulai
        menyadari bahwa Storm tidak sendiri.

          Serta-merta,  Storm  merengkuh  pinggangku,  dan  ia  memperkenalkanku,  “This  is  my
        girlfriend, Zarah.”

          Mereka terpaksa berbasa-basi denganku. Mau tak mau.

          “Are you in the industry as well, Zarah?”

          Ketika aku masih berpikir, industri apa yang mereka maksud? Industri model, industri

        media, industri hiburan…? Storm menyambar, “Zarah seorang fotografer.”
          “Fashion?”


          “Wildlife,” jawabku.

          Ada  sedetik  sunyi,  yang  barangkali  merupakan  momen  perenungan  mereka  bertiga.
        Bagaimana mungkin Storm Bradley bisa berakhir dengan pemotret hewan?

          Aku  tak  peduli  lagi.  Detik  ketika  kupingku  menangkap  Storm  mengucap  “my
        girlfriend”,  tak  ada  lagi  yang  lebih  berarti.  Untuk  kali  pertama  ia  mengucapkannya
        lantang  dan  gamblang.  Kebetulan  saja,  pihak  ketiga  yang  menjadi  saksi  deklarasi
        perdananya adalah model-model top ini. Hidup terkadang sangat jenaka.

          Mengembanglah  senyum  yang  tak  bisa  kutahan  dan  bertahan  hampir  semalaman  di

        wajahku. Akhirnya, aku punya sebuah tanggal yang akan kukenang. Akhirnya, aku bisa
        mengumumkan kepada dunia, kepada Kim, bahwa pertanyaan “anak umur empat belas
        tahun”-ku kini punya jawaban.

          Aku punya… pacar.

                                                                                                               7.

        Musim  panas  di  London  adalah  musim  panennya  pertunjukan  dan  hiburan.  Tentu  saja,
        musim  panas  di  London  dan  musim  panas  di  Kalimantan  jauh  berbeda.  Sama  seperti
        membandingkan air hangat dan air mendidih, tapi keduanya sama-sama disebut “panas”.

          Sialnya, musim panas adalah musim tersibuk bagi Storm. Sementara ia bertugas di Paris,

        aku  terjebak  di  London  karena  tiga  hari  lagi  sudah  harus  berangkat  ke  Madagaskar,
        menemui musim panas yang sesungguhnya.
   161   162   163   164   165   166   167   168   169   170   171