Page 167 - Supernova 4, Partikel
P. 167

“Kamu kembali ke pelukan saya, Zarah. Akhirnya,” gurau Zach.

          “Kangen juga sama sarapan buatanmu.” Aku tersenyum.

          “Pastilah,” Zach mendengus. “Storm  Bradley  may  have  six  pack  abs,  but  it  can  only
        mean one thing. That chap doesn’t serve delicious, scrummy breakfast like I do.”

          “Apa kabar Cro-Mag?” kataku sambil menyuap hash brown panas yang berkilap oleh
        minyak,  lalu  mengiris  omelet  khas  Zach  yang  basah  oleh  campuran  susu  full  cream,
        gendut oleh keju mozzarella, dan penuh irisan jamur champignon. “Bukannya dia sedang

        di London? Kok, jarang muncul?”

          “Kamu sibuk pacaran, Cro-Mag lagi masuk gua,” Zach menghela napas panjang. “Ah,
        well, it’s just one of those days.”

          “Kangen sama kalian.”

          “Jalan, yuk. Malam ini.”

          “Ke mana?”

          “Sudah  lebih  satu  setengah  tahun  kamu  di  London,  dan  belum  pernah  kamu  nonton
        pertunjukan Broadway satu kali pun. Itu dosa besar.”

          “Saya mau. Asal kamu bisa membujuk Cro-Mag keluar gua.”





        Kembali bersama kedua “abang”-ku, kami menyusuri West End. Hanya bersama mereka,
        aku  mencicipi  sensasi  jadi  anak  bungsu.  Zach  memilihkan  pertunjukan  klasik  Les
        Misérables. Menurutnya, pengalaman Broadway akan menyeimbangkan sisi rimba Zarah
        Amala, membuatku lebih berbudaya.

          Kami  bertiga  berjalan  santai  di  trotoar  London  yang  padat  pada  akhir  pekan.  Cuaca
        musim  panas  yang  bersahabat  melambatkan  ritme  gerak  manusia  di  kota  ini.  Banyak

        orang yang berkumpul dan mengobrol di trotoar. Aku menikmatinya.

          Mataku tertumbuk pada antrean panjang di depan sebuah gedung pertunjukan.

          “This  one  is  a  full  house,”  komentarku.  Rata-rata  yang  mengantre  adalah  anak-anak
        remaja.

          “Ada kompetisi tari di televisi. Sangat populer. Ratusan ribu vote yang masuk. Setelah
        itu, para pemenang dan finalis-finalisnya tur keliling UK. London jadi pembuka. Nggak
        heranlah penuh banget,” jelas Zach.

          Sambil berjalan, kulirik poster besar yang berderet di tembok. Fokus poster tersebut ada
        pada seorang perempuan berkulit hitam yang tengah melejit di udara, merentangkan kedua

        kaki jenjangnya.

          Langkahku melambat. Rasanya… mataku menangkap sesuatu yang familier.

          “Sebentar,”  aku  membalik  badan.  Berdiri  di  depan  poster,  mencari  sesuatu  yang  tadi
        mencuri atensiku.
   162   163   164   165   166   167   168   169   170   171   172