Page 168 - Supernova 4, Partikel
P. 168

Kutemukanlah,  secetak  nama  yang  proporsinya  lebih  besar  dibandingkan  nama-nama
        lain  yang  tertera.  Kuyakinkan  mataku  tak  salah  membaca.  Foto  perempuan  yang
        merentangkan kaki di udara itu diambil dari samping, menyembunyikan wajahnya yang
        tertutup rambut keriting yang terlempar. Di bawah foto itu terbaca: Koso Onyemelukwe.

          “Coming, mate?” Zach menegurku karena terlalu lama mematung di depan teater.

          “Penari ini… Koso… I know her,” sahutku terbata.

          “I thought you said you didn’t know anybody in London, and now you suddenly know the

        famous Koso?” Zach berkacak pinggang.

          “Famous? Koso?” ulangku tak percaya. Lelucon apa ini?

          “Koso itu pemenang pertama kontes tari yang kubilang tadi. Dia juaranya. So, yes, she IS
        famous!” Zach tertawa lepas, “Makanya, nonton televisi sekali-sekali!”

          Aku merinding. Mataku sampai berkaca-kaca. Koso, sahabatku, menjadi penari terkenal
        di Inggris? Dia berhasil. Kami… berhasil.

          Melihatku berdiri kaku menahan tangis, tawa Zach memudar. “Zarah?” panggilnya lagi.
        “Kamu serius kenal dia, ya?”

          “Is there anyway I can see her?”


          “Malam ini maksudmu?” tanya Paul.
          “Ya. Malam ini.”


          Paul membentangkan tangannya, menunjukkan antrean mengular di depan pintu teater.
        “Orang-orang ini beli tiketnya dari berbulan-bulan yang lalu. Nggak mungkin kita bisa
        dapat tiket malam ini.”

          “Saya bukan pengin lihat dia nari. Saya ingin ketemu orangnya. In person.”

          Paul terdiam, berpikir. “Well, I guess, we’ll just have to find a way.”

          Zach memandang kami berdua dengan muka tertekuk. “What about our Broadway?”





        Kasak-kusuk Paul selama setengah jam di telepon, entah dengan siapa saja, membuahkan
        dua tanda media pass untuk menembus ke belakang panggung. Zach terpaksa menunggu
        di luar.

          Pertunjukan  akan  dimulai  kurang  dari  lima  belas  menit  lagi.  Para  kru  pertunjukan
        berpakaian hitam-hitam bercampur dengan para pendukung acara yang berpakaian warna-
        warni  lalu-lalang  memenuhi  koridor.  Aku  dan  Paul  harus  menembus  manusia-manusia
        supersibuk itu. Mencari seorang Koso.

          Seorang  kru  yang  ditanya  Paul  menunjuk  ruangan  dengan  pintu  bertanda  bintang.
        Ruangan itu setengah terbuka, menunjukkan beberapa orang yang sedang dirias. Mereka

        semua  memunggungi  kami,  tapi  ada  satu  siluet  yang  kuhafal  dengan  baik.  Rambutnya
        yang  keriting  dan  besar  kini  dicat  cokelat.  Tapi,  ia  masih  orang  yang  sama.  Jantungku
   163   164   165   166   167   168   169   170   171   172   173