Page 169 - Supernova 4, Partikel
P. 169

berdebar kencang. Berharap cemas.

          Kru tadi kemudian menghampiri Koso, memberitahukan tentang kehadiran kami. Koso
        menoleh ke belakang. Langsung menemukanku. Ia tertegun.

          “OH, MY GOD!” Suara Koso yang tebal dan keras memenuhi koridor.

          Lalu terdengar suara yang sama melengking, “ZARAAAH!”

          Perhatian semua orang melesak hanya kepada kami berdua. Di ujung sana, tubuh Koso
        yang  menjulang  tinggi  melompat-lompat  kegirangan  seperti  anak  kecil  melihat  mainan

        dambaannya  muncul  di  depan  mata.  Di  ujung  sini,  punggungku  sampai  membengkung
        menahan intensitas perasaan campur aduk yang menyerbu. Sahabat yang sudah sewindu
        tak kulihat kini hanya sepuluh meter di hadapan.

          Badanku yang masih terkunci digabruk sekuat tenaga oleh Koso yang berlari kencang.

          “It’s you! It’s really you! My Zarah,” rapat, ia mendekapku. Terisak.

          Kami  berdua  menangis  sambil  tertawa.  Paul  ikut  senyum-senyum,  hanyut  terbawa
        suasana dramatis reuni kami.

          “Lihat kamu sekarang,” Koso melepaskan dekapannya dan mengamatiku takjub. “Saya
        nggak nyangka kamu jadi setinggi ini. You look so great. So gorgeous you are,” serunya.


          “Dan,  kamu….”  Aku  sampai  kesulitan  mencari  kata-kata.  Koso  bagaikan  diva.
        Tubuhnya  kini  tinggi  proporsional,  wajahnya  dirias  cantik,  rambut  keritingnya  tergerai
        indah. Kostum tarinya, yang hanya terdiri atas dua potong kain hitam yang menutup dada
        dan pinggul, mempertontonkan otot-ototnya yang semakin lencir. Koso tidak hanya atletis,
        tapi juga seksi luar biasa.

          Satu hal yang dulu tak kulihat dan kini memancar deras darinya adalah rasa percaya diri.
        Aku tak punya kemampuan melihat aura. Tapi, Koso begitu bersinar bagai bintang kejora.

        Senyum, gerak gerik, dan sorot matanya menunjukkan ia telah bertransformasi.
          “Your make-up…,” aku menunjuk maskaranya yang meluntur di bawah mata.


          Koso tertawa, “Nggak peduli! Nanti saja saya perbaiki. But… you… why are you here in
        London?”

          “Saya kerja di sini. Sudah hampir dua tahun. Oh, ya, kenalkan ini Paul,” aku teringat
        Paul yang sedari tadi berdiri menontoni kami. “He’s my… boss.”

          Paul  mengerling.  Aku  juga  ikutan  canggung.  Baru  kali  ini  aku  merujuknya  sebagai
        bosku.

          “Wow,” Koso menjabat Paul sambil ternganga, “kerja apa?”

          “Your old friend here is a brilliant photographer,” Paul merangkul bahuku.

          Koso memelotot sampai kelihatan nyaris tersedak. “Zarah, I’m so proud of you!”

          Aku  tak  tahan  tersenyum  lebar.  Koso  bilang  ia  bangga  kepadaku,  sementara  dirinya

        adalah juara kompetisi tari se-Inggris Raya. Ada yang salah rasanya.
   164   165   166   167   168   169   170   171   172   173   174