Page 170 - Supernova 4, Partikel
P. 170

Tiba-tiba terdengar seorang kru berteriak lantang, “Five minutes!”

          “Zarah, aku harus siap-siap. Kamu nonton, kan? Please? Kita ngobrol lagi sesudah ini?
        Besok?  Pokoknya  kita  harus  ketemu.  I  want  your  number,  your  address,  anything,”
        berondong Koso panik.

          Cepat-cepat kurogoh tas kecilku, mencatatkan nomor teleponku dan alamat Zach.

          “Kamu  akan  telepon  saya,  Koso?  Benar?”  Aku  menyerahkan  catatanku  sambil
        menggenggam tangannya erat-erat. Tahunan kunanti sepucuk surat darinya, haruskah aku

        kembali menunggu dalam ketidakpastian?

          “Janji,” bisiknya sambil mendekapku, “I got to go, now. Pleased to meet you, Paul.”
        Koso  melempar  senyum  kepada  Paul,  meniupkan  kecupan  kepadaku,  lalu  lari  ke  arah
        pintu bertanda bintang tadi.

          Kosoluchukwu, teman sebangkuku. Bintang yang kutemukan ulang.

                                                                                                               8.

        Dua hari lagi aku sudah harus terbang ke Madagaskar. Telepon dari Koso kunanti dengan
        cemas. Pukul tiga sore keesokan hari, Koso menghubungiku. Kami janjian bertemu lagi di

        area West End, di sebuah kedai kopi kecil, sebelum Koso pergi geladi resik.
          Rasanya seperti mimpi. Berhadap-hadapan dengan Koso lagi setelah sekian lama. Dan

        sesekali, ada saja yang menghampiri kami untuk minta foto atau tanda tangannya.

          Bahasa Indonesia Koso masih lancar walau tidak sebagus dulu. Bahasa Inggris-nya yang
        dulu berlogat Nigeria mulai luntur, diganti logat Cockney yang kental.

          Ayah  Koso  masih  tinggal  di  London,  tapi  mereka  sudah  tidak  serumah.  Seperti
        umumnya anak-anak muda Barat yang keluar dari rumah setelah mandiri, Koso pun hijrah
        dari rumah ayahnya setelah bisa cari uang sendiri.

          Begitu tiba di London, Koso mendaftar akademi balet. Ia berhenti dari sekolah biasa. Di
        akademi tempat Koso belajar, beberapa gurunya menguasai metode khusus untuk murid-

        murid yang disleksik, dan menari balet adalah salah satu terapi. Menari menjadi semacam
        senam otak yang membantu bagi penderita disleksia. Guru-guru Koso punya cara untuk
        membantu murid-murid disleksik agar tidak kebingungan dengan hitungan dan koreografi.

          Kemampuan fisik Koso yang memang istimewa langsung melejitkannya menjadi murid
        yang  paling  menonjol.  Setelah  lima  tahun  belajar  balet  secara  disiplin,  Koso  mulai
        mempelajari  tari-tari  dengan  gaya  berbeda,  termasuk  kontemporer.  Sampai  akhirnya  ia

        memberanikan diri mengikuti audisi kompetisi di televisi, dan keluar sebagai pemenang.

          “It felt like magic, Zarah. Hidupku berubah dalam semalam,” ujar Koso berbinar-binar.
        “But  I  love  it.  This  is  my  path.  Saya  akan  terus  menari  seumur  hidup  saya.”  Ia  lalu
        bertanya, “Jadi, fotografi juga menjadi panggilan hidupmu?”

          “I  guess,”  aku  mengangkat  bahu.  Dan,  aku  cukup  kaget  karena  ternyata  tidak  bisa
        kujawab  pertanyaan  itu  dengan  semangat  dan  keyakinan  seperti  yang  baru  saja
        ditunjukkan Koso pada dunia tari.
   165   166   167   168   169   170   171   172   173   174   175