Page 171 - Supernova 4, Partikel
P. 171

“Saya belum tahu apakah saya akan selamanya memotret, Koso,” ucapku lagi. “Saya
        bahkan nggak tahu apakah saya bakal terus di London. Hidup selalu membawa kejutan
        aneh buat saya.”

          “Sekarang  giliran  kamu  yang  cerita,”  Koso  melipat  tangannya.  Siap  mendengarkan.
        “Apa saja yang terjadi denganmu selama delapan tahun terakhir?”

          Aku menghela napas. Meneguk cappuccino-ku. Dari mana harus kumulai? Dari hari-hari

        percuma saat aku memutuskan tinggal kelas demi membimbing Koso belajar, dan tiba-tiba
        saja ia pindah ke luar negeri? Dari hari-hariku yang penuh tanya, menanti kabar darinya
        yang tak kunjung ada? Atau cukup dari apa yang ia ingin dengar, tentang keberuntungan
        dan nasib baik yang sesekali berpihak dan membawaku kembali ke hadapannya hari ini?

          “Butuh  semalam  suntuk  untuk  itu,  Koso.  Dan,  saya  tahu  waktumu  nggak  banyak.
        Setengah jam lagi kamu harus pergi latihan, kan?”

          “Kita  harus  ketemu  lagi  sepulang  kamu  dari  Madagaskar.  Harus!”  tegasnya.  Ekspresi
        mukanya  mendadak  berubah,  seperti  dihinggapi  wahyu.  “Kita  harus  tinggal  bareng!”

        pekiknya.

          “What?”

          “Sekarang ini saya lagi cari teman serumah. Tahu-tahu, sahabat terbaik saya dari belahan
        dunia  lain  muncul  di  kota  ini  setelah  hilang  kontak  delapan  tahun!  Coba,  bagaimana
        mungkin  bisa  begitu?  It  must  be  a  sign!  Kita  ditakdirkan  jadi  sahabat  seumur  hidup,
        Zarah,” berapi-api Koso berkata.

          “Sebentar, sebentar,” aku menenangkannya. “Kamu tinggal di Primrose Hill, while I’m
        still struggling here. Saya bisa patungan bayar tempat tinggalku sekarang karena tempat

        itu  setengah  kantor,  jadi  saya  menanggungnya  dengan  banyak  orang.  Patungan  bayar
        kontrak  apartemen  di  daerahmu?  Cuma  kita  berdua?  Sori,  Koso.  Masih  jauh  di  atas
        kemampuan saya sekarang.”

          Koso menepak jidat. “Gara-gara itu doang?” serunya. “Zarah, kamu nggak perlu bayar
        apa pun. Saya sanggup membiayai apartemen saya sendiri. Tapi saya sangat butuh teman
        kayak kamu,” katanya lagi. “Please?”

          “Saya nggak bisa numpang gratis,” aku menggeleng.

          “Oke. Kalau gitu, kamu bayar semampumu. Berapa pun itu, saya terima. Done,” timpal

        Koso cepat.

          “Saya pikir-pikir dulu.”

          “Apanya lagi yang harus dipikirin, sih?”

          “Saya harus bilang dulu sama pacarku….”

          “You have a boyfriend? A Londoner? Wicked!” Koso terpekik. “Kenalin dong!”

          “Dia lagi di Paris.”

          “Di Paris?” Koso langsung menganga. “Who is this bloke?”
   166   167   168   169   170   171   172   173   174   175   176