Page 172 - Supernova 4, Partikel
P. 172

“Nanti, deh. Pasti aku kenalin,” kataku kalem.

          “Fotonya? I’m dying to know how he looks like.” Ia menggosok-gosok jemarinya.

          Seperti  halnya  teman-teman  sekolahku  dulu  yang  membawa-bawa  foto  pacar  di
        dompetnya,  kini  aku  melakukan  hal  yang  sama.  Beberapa  bulan  lalu,  kuganti  dompet
        usangku,  memilih  dompet  yang  memiliki  selipan  berlapis  plastik  bening.  Di  situlah
        kusisipkan  foto  Storm.  Wajahnya  menjadi  pemandangan  yang  menyambutku  setiap

        membuka dompet.

          Kubuka dompetku di depan muka Koso. Ia terpana.

          “He is a hunk,” Koso geleng-geleng, “I’ve never even had a bloke this good looking.”

          “Nggak percaya,” aku tergelak.

          “Serius!” seru Koso, “You are one lucky bird.”

          “I am.” Senyumku mengembang. Hatiku berubah menjadi padang bunga hanya karena
        mengingat Storm.

          “Jadi, tunggu apa lagi? Nggak mungkinlah pacarmu lebih memilih kamu tinggal bareng
        teman pria daripada teman perempuan. And I’m your oldest friend. Come on, Zarah, just
        say yes.”


          “Kayaknya dulu kamu nggak sekeras kepala ini, deh,” celetukku.
          “Hey, YOU taught me,” Koso tergelak, “I learned from the best.”


          “Saya kabari setelah dari Madagaskar, ya.”

          “Deal.”

          Tak  lama  kemudian,  kami  berpisah.  Koso  pergi  latihan  dan  aku  memesan  cangkir
        cappuccino kedua.

          Aku teringat Paul. Sering kuejek ia karena selalu memesan weak cappuccino atau kopi
        hitam decaf. Sungguh tak sesuai dengan figur besarnya.

          Paul  dengan  bijak  berkata,  “Saya  memesan  kopi  encer  supaya  saya  bisa  minum  kopi
        lebih  lama.  Ketika  orang-orang  berhenti  minum  kopi  karena  jantungnya  berdebar  atau
        lambungnya nggak kuat, saya masih akan minum dengan santai sesuka hati.”


          Aku  suka  kopiku  pekat  dan  nendang.  Jika  suatu  saat  kafeina  membuatku  tumbang,
        setidaknya  aku  pernah  merasakan  tendangannya  yang  paling  kencang.  Kadang,  aku
        berharap bisa memiliki kehati-hatian seperti Paul. Namun, sepertinya caraku menghadapi
        hidup memang berbeda dengannya.

          Di tegukanku yang ketiga, sebuah pesan singkat terkirim ke ponsel Koso: Deal. Saya
        pindah ke tempatmu.

                                                                                                               9.

        Ramalan Koso tepat. Storm mendukung keputusanku pindah ke tempatnya. Storm tak ada

        masalah  sama  sekali  dengan  Zach  atau  Paul,  tapi  ia  dan  Koso  langsung  klop  seperti
   167   168   169   170   171   172   173   174   175   176   177