Page 173 - Supernova 4, Partikel
P. 173

sendok ketemu garpu. Walau cuma sesekali mereka bertemu, Koso dan Storm kompak dan
        saling mengagumi. Menurut Koso, Storm adalah pria Inggris paling charming dan hangat
        yang pernah ia tahu. Sementara menurut Storm, Koso adalah “an exciting, jumpy ball of
        fire”. Apa pun artinya itu. Yang jelas, aku bahagia kekasih dan sahabatku bisa cocok.

          Setelah karier dari Paul, status pacar dan kehidupan cinta dari Storm, kepindahanku ke
        tempat Koso adalah kegenapan dari rangkaian inisiasiku sebagai perempuan lajang pada

        era modern.

          Koso  jarang  di  apartemen  karena  kesibukannya  tur,  latihan,  pemotretan,  wawancara,
        shooting, dan sebagainya. Sebaliknya, jadwalku cukup santai di London. Jika sedang tidak
        tugas  di  luar  negeri,  aku  jadi  pengurus  apartemen  Koso,  mulai  dari  masak,  belanja
        kelontong,  sampai  bersih-bersih.  Koso  nyaris  tak  punya  waktu  untuk  itu  semua.  Hidup
        dengannya, aku menyadari jurang lebar antara dunia kerja kami.

          Kehidupanku  adalah  etalase  transparan  yang  mudah  ditebak  semua  orang.  Hidup

        fotografer  wildlife  tidak  akan  jauh  dari  semak,  tanah,  air,  dan  hewan.  Semua  orang
        maklum kalau jas hujan berkualitas baik lebih penting bagiku ketimbang koleksi trench
        coat terbaru Burberry. Sudah bukan rahasia kami harus tahan disiksa berbulan-bulan oleh
        alam, dan seringnya kami tidak dibayar mahal untuk itu.

          Kehidupan Koso memiliki dua muka. Pekerjaannya menuntut tampilan luar yang selalu
        up-to-date,  terawat,  dan  glamor.  Jika  ada  waktu  kosong,  Koso  akan  ke  salon  dan
        berbelanja.  Namun,  di  balik  itu,  Koso  bekerja  sangat  keras.  Ia  bisa  berlatih  menari

        setengah  hari,  di  luar  dari  jadwal  rutinnya  ke  gym  atau  Pilates.  Tak  jarang  ia  pulang
        dengan  lebam,  terkilir,  keseleo,  dan  cedera  lainnya.  Kompres  es  dan  bebat  adalah  dua
        benda yang akrab menempel di tubuh Koso.

          Penari adalah salah satu profesi tersingkat, kata Koso. Di atas tiga puluh tahun, kans
        mendapat pekerjaan sudah sangat tipis. Dengan mudah ia tergantikan oleh penari muda
        yang lebih fit, lebih cantik, dan lebih muda. Jika sampai tidak mendunia dan punya nama

        ekstra  terkenal,  Koso  harus  bersaing  dengan  ribuan  penari  demi  slot  pekerjaan  yang
        jumlahnya  tidak  banyak.  Itu  pun  jika  ia  tidak  dijegal  duluan  oleh  cedera  berat,  seperti
        tendon robek, patah tulang, dislokasi sendi, yang membayanginya setiap saat.

          Belakangan aku baru tahu ayahnya masih membantu Koso secara finansial. Kalau bukan
        karena subsidi dari ayahnya, Koso tak akan sanggup menyewa apartemennya sekarang,
        yang berada di area terelite di London.

          “Kamu pikir, kalau saya muncul di videoklip, atau tur bareng dengan popstar, itu berarti
        saya  jadi  selevel  dengannya?  No bleeding way.  Saya  dibayar  kurang  dari  sepersepuluh
        honor yang dia terima. Saya nggak punya ruang ganti sendiri. Kami dandan, ganti baju,

        ramai-ramai  bersama  lusinan  penari  lain.  And  on  that  stage,  I’m  just  another  face,”
        tuturnya. “Tahunan dari sekarang, saya sudah harus ‘naik kelas’ jadi koreografer, pengajar,
        atau punya studio sendiri. Kalau nggak? I’m done.”

          Aku  lalu  mengusulkan  untuk  pindah,  mencari  apartemen  lain  yang  lebih  murah,  dan
        Koso menolak. “Saya nggak keberatan tinggal di tempat yang paling sederhana sekalipun.
        Tapi, sekarang mungkin satu-satunya kesempatan saya bisa hidup seperti ini, Zarah. So, I
   168   169   170   171   172   173   174   175   176   177   178