Page 174 - Supernova 4, Partikel
P. 174

decide to enjoy this to the fullest while I still can,” katanya. Aku pun memaklumi. Koso
        minum double espresso setiap pagi. Seperti aku, ia mendamba tendangan maksimal dari
        setiap cangkir kesempatan.

          Dibandingkan saat tinggal di tempat Zach, kebersamaanku dengan Koso lebih serabutan.
        Kami tak tentu kapan bertemu, kapan bersama, kapan bermain, dan kapan bekerja. Zach
        dan aku bisa meninggalkan rumah berminggu-minggu dan lama tidak bertemu. Tapi, saat

        kami  di  London,  kami  hampir  selalu  bersama  untuk  mengerjakan  banyak  pekerjaan  di
        komputer. Jadwal A-Team yang terorganisasi dengan rapi membantu kami menata jadwal
        hidup  masing-masing  dengan  baik.  Kendati  pekerjaan  kami  menuntut  fleksibilitas  dan
        kesiapan  untuk  menghadapi  yang  serba-tak-pasti  di  lapangan,  begitu  kami  kembali  ke
        markas, ritme yang tertata mengambil alih.

          Bersama  Koso,  aku  tak  punya  penyeimbang  itu.  Pada  hari-hari  sibuknya,  Koso  tak
        kelihatan  seharian,  dari  pagi  hingga  malam.  Jika  aku  tak  menyempatkan  nonton

        pertunjukannya, bisa-bisa aku tak melihat tampangnya dalam waktu lama. Begitu Koso
        punya  libur  dan  terlalu  lelah  pergi  shopping,  barulah  ia  akan  mengonggok  seharian  di
        apartemen. Tidur.

          Pada saat-saat indah kami bisa bersama dan bersantai, saat itulah kutemukan kembali
        sahabatku  yang  hilang.  Dalam  piama,  kami  duduk  berdua  di  sofa,  menonton  film  atau
        mengobrol. Koso, yang maniak es krim dan bisa makan seliter sendirian sambil menonton
        televisi,  akan  berbaik  hati  membawakanku  sendok,  dan  aku  akan  ikut  mencomot  es

        krimnya. Aku, yang maniak popcorn, akan membuat sebaskom popcorn untuk kami camil
        bersama-sama sambil menggosip tentang apa saja.

          Diikat  oleh  makanan  dan  waktu  luang  yang  jarang-jarang,  persahabatan  kami  terasa
        semanis es krim vanila dan segurih popcorn bersaus mentega.

                                                                                                             10.

        Tahun  ini  akan  menjadi  ulang  tahunku  pertama  bersama  Storm.  Aku  beruntung  bisa
        merayakannya di London.

          Orang  yang  paling  sibuk  justru  Koso.  Sehari  sebelumnya,  ia  mengajakku  berbelanja.

        Untuk persiapan, katanya. Persiapan apa sebetulnya itu, aku sendiri tak begitu tahu.

          Setengah jam sebelum toko-toko buka, Koso bersiap berangkat. “Come on, let’s shop,”
        ajaknya.

          Hari  itu,  ia  mengajakku  ke  King’s  Road.  Tanpa  Koso,  aku  akan  limbung  di  sana.
        Semakin siang, semakin penuh manusia. Bagai kerbau dicocok hidung, aku keluar-masuk
        butik mengikuti Koso. Kantong kertas di tangannya pun terus bertambah.

          Setiap ada baju yang menurutnya “cute” akan dipatutkannya di badanku. “Kamu harus
        beli  ini,”  ucapnya  selalu.  Aku  pun  terus  menolak.  Pertama,  sayang  uang.  Kedua,  tidak

        ingin dibelikan. Ketiga, di balik sarannya, aku merasa Koso-lah yang sebetulnya tertarik
        dengan baju-baju itu. Dan, benar saja, semua baju yang ia sarankan berakhir di kantong
        kertas. Koso yang beli.

          “You  shop  a  lot,”  komentarku  saat  kami  akhirnya  duduk  ngopi.  Semua  kantong
   169   170   171   172   173   174   175   176   177   178   179