Page 22 - Supernova 4, Partikel
P. 22

Orang-orang  bilang,  terkadang  ada  bunyi  bergemuruh  terdengar  dari  Bukit  Jambul.
        Dugaanku,  itu  adalah  Brachiosaurus  serdawa  setelah  kenyang  makan  dedaunan.  Atau
        sekelompok Ankylosaurus sedang adu ekor. Walau sebetulnya sulit juga membayangkan
        ada makhluk sebesar dinosaurus berkeliaran di antara pepohonan rapat itu, suasana purba
        hutan Bukit Jambul dengan mudah membangkitkan imajinasi kita tentang Era Mesozoik

        yang  merupakan  salah  satu  pelajaran  favoritku.  Aku  bisa  memaksa  Ayah  berbusa-busa
        bercerita tentang tiga periode Mesozoik sampai ia menyerah kehabisan ide.

          Akan tetapi, belum pernah kudengar versi yang lebih aneh daripada versi Ayah. Versi
        yang  membingungkanku  karena  tak  pernah  bisa  kupastikan  apakah  itu  fiksi  atau  fakta.
        Ada bagian dalam diriku yang selalu mempertanyakan kewarasan Ayah setiap mengingat
        apa yang dikatakannya tentang Bukit Jambul. Yang jelas, satu hal tak bisa disangkal. Ada

        hubungan khusus antara Ayah dan tempat itu.
          Saat  Abah  masih  aktif  membina  Batu  Luhur,  para  pemimpin  desa  sempat  berembuk

        berbulan-bulan tentang Bukit Jambul. Mereka gerah dengan adanya tempat semengerikan
        itu di dekat area mereka berladang. Membabat Bukit Jambul sudah menjadi agenda turun-
        temurun di Batu Luhur. Hadirnya Abah Hamid, tokoh agama yang karismatik, membuat
        agenda itu kembali dilirik. Siapa tahu, Abah bisa mendatangkan kekuatan yang sanggup
        menandingi kekuatan gelap Bukit Jambul.

          Abah  lantas  melakukan  rangkaian  sembah  khusus  untuk  meminta  petunjuk.  Suatu
        malam  sesudah  shalat  Istikharah,  ia  diberi  mimpi.  Dalam  mimpinya,  ada  sinar

        menyilaukan  turun  di  puncak  Bukit  Jambul.  Sinar  itu  ternyata  semacam  pemangsa.  Ia
        menelan  Ayah,  kemudian  sinar  itu  hilang  begitu  saja  ditelan  gelap.  Ada  suara  yang
        menerangkan kepada Abah bahwa itulah yang akan terjadi kepada Ayah jika Bukit Jambul
        diusik.

          Mimpi itu dimaknai Abah sebagai ujian Nabi Ibrahim saat harus mengorbankan anak
        kesayangannya, Ismail. Dengan legawa ia mengakui kepada warga Batu Luhur bahwa ia
        tak sanggup. Iman Abah belum sehebat Nabi Ibrahim. Abah tidak siap kehilangan Ayah.


          Kami tidak akan mengganggu jika tidak diganggu, demikian pesan terakhir dari sinar itu
        dalam mimpi Abah.

          Para pemimpin desa pun memaklumi. Abah bukan nabi. Tidak ada orangtua yang rela
        anaknya menjadi tumbal.

          Yang  penasaran  lantas  mendesak  Abah  bercerita  lebih  lanjut  tentang  sinar  itu.  Jadi,
        kekuatan apa itu sebenarnya? Jinkah? Dedemitkah? Ibliskah? Abah hanya menggeleng
        dan bilang tidak tahu.


          Sejak  mimpi  itu,  persepsi  Abah  tentang  Bukit  Jambul  pun  berubah.  Tempat  itu
        menggentarkannya  lebih  dari  apa  pun.  Konsekuensinya,  Ayah  dilarang  habis-habisan
        mendekat  ke  sana.  Kalau  ketahuan  main  di  dekat  Bukit  Jambul,  Ayah  akan  dihardik,
        dihukum,  dipecut,  dan  digebuk.  Begitu  Bukit  Jambul  tampak  dalam  pandangan,  Abah
        bahkan memalingkan muka Ayah agar tidak melihatnya.

          Sialnya, Ayah malah tambah penasaran. Bukit Jambul adalah kekuatan yang menariknya
   17   18   19   20   21   22   23   24   25   26   27