Page 175 - Supernova 4, Partikel
P. 175

belanjaan Koso memakan satu kursi sendiri.

          “Ini namanya ‘retail therapy’. Mengurangi stres, bikin hati senang, and we look good,”
        balas Koso ringan. “Kamu betulan nggak suka shopping, ya?”

          “Kayaknya saya cuma cocok dengan terapi hutan,” aku terkekeh.

          “Saya gemas banget pengin dandanin kamu. Kamu cantik, cowok kamu ganteng, tapi
        dandanan kamu selalu kayak manusia gua,” timpal Koso.

          Aku terbahak. “Nggak separah itulah. Saya cuma malas tampil macam-macam. T-shirt

        dan jins sudah cukup.”

          “Tapi, jangan T-shirt dan jins model sepuluh tahun yang lalu, dong,” sambarnya lagi,
        “and  those  bulky,  muddy  boots…,”  Koso  menunjuk  ke  kakiku  sambil  geleng-geleng
        kepala, “for heaven’s sake, Zarah.”

          “He,  sepatu  bot  ini  sudah  menemani  saya  bertahun-tahun.  Kami  berdua  sudah
        menjelajahi Afrika.”

          “Spot on!” seru Koso sampai matanya seperti mau mencelat keluar. “Sepatu itu memang
        tempatnya di savana, untuk kamu pakai bergaul dengan zebra dan jerapah. Bukan untuk

        birthday dinner di London.”
          “Sudahlah. Storm menerima saya apa adanya, kok.”


          “Kamu kasih saya waktu sebelum dinner-mu nanti malam. And you know I don’t have
        much free time. Jadi, habis ini, kita jalan-jalan lagi—”

          “Lagi?” ratapku.

          “Dengar  dulu.  Saya  tahu  kamu  sedang  berhemat.  Saya  akan  carikan  tempat  yang
        harganya  bersahabat,  dan  saya  nggak  akan  belikan  kamu  apa-apa.  Saya  cuma  pilihkan
        modelnya. Kamu beli sendiri. Terus, kita ke salon. And THAT will be my treat. You can’t
        say no.”


          “What is this? Ugly duckling make-over program or something?” aku terheran-heran.
          “Nggak usah protes dulu. Just say yes to me this one time, setelah itu baru kamu boleh

        komentar.”

          Aku tertawa dalam hati. Mungkin ia lupa, aku mengatakan “yes” kepadanya berkali-
        kali.

          “Dulu  saya  pikir  saya  orang  paling  keras  kepala  di  dunia.  Ternyata,  kamu  sekarang
        melebihi saya, Koso.”

          “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari,” Koso nyengir lebar. “See? Saya nggak
        mungkin  bakal  bisa  ingat  peribahasa  itu  kalau  bukan  kamu  dulu  yang  bantu  pelajaran
        Bahasa Indonesia saya.”


          Koso telah menunjukkan titik lemahku. Sebetulnya, bukan ia yang menjadi lebih keras
        hati. Untuk orang-orang yang kusayang dan kubela, akulah yang berubah pasrah dan tak
        lagi melapisi diri dengan benteng pertahanan apa pun. Untuk mereka, aku menjadi Zarah
   170   171   172   173   174   175   176   177   178   179   180