Page 176 - Supernova 4, Partikel
P. 176

yang selalu siap mengalah.




        Setelah rihat singkat tadi, kami pergi lagi. Kali ini dengan berpedoman sebuah daftar yang
        dipegang oleh Koso, yang tak boleh diintip olehku.

          Satu demi satu barang ia pilihkan, lalu ia akan mencoret satu demi satu item dalam daftar
        rahasianya.


          Setelah baju dan tas tangan, Koso memilihkanku sepasang sepatu dengan lapisan kain
        brokat hitam. Haknya sepuluh senti.

          “Saya  nggak  mungkin  pakai  sepatu  ini.  Jalan  tiga  langkah  saja  saya  pasti  jatuh!”
        protesku.

          Koso berdecak. “Oke, oke. Kalau yang ini, gimana? Hak ini nggak mungkin lebih dari
        tiga senti. You can walk on these. I’m sure.”

          Kucoba sepasang pump shoes yang terbuat dari suede ungu gelap itu. Mulai berjalan.

        Ternyata, aku bisa mengelilingi toko tanpa kehilangan keseimbangan.
          “Lumayan,” gumamku.


          Koso memekik kecil sambil melonjak kegirangan. “You’ll look so gorgeous tonight!” Ia
        mengeluarkan daftar “renovasi”-nya, mencoret lagi satu baris. “Masih ada beberapa lagi,”
        Koso menyusuri catatannya. “Yuk, buruan. Nanti keburu tutup.”

          Koso mengajakku ke Southall, daerah yang dikenal sebagai Little India. “Kalau kamu
        mau waxing dan threading terbaik, kamu harus ke salon di sini. They’re the expert.”

          “Waxing? Threading? Apa itu?”

          Koso menganga. “Kamu betulan nggak tahu? God have mercy!”

          Koso tak perlu menjelaskan. Jawaban dari pertanyaanku terungkap begitu kami sampai
        ke  salon  langganan  Koso.  Waxing  dan  threading  adalah  metode  siksa  bagi  tahanan

        perempuan  dari  masa  primitif  yang  dengan  misteriusnya  bertahan  sampai  sekarang.
        Semacam  pemanasan  sebelum  siksa  neraka.  Hanya  teori  konspirasi  atau  semata-mata
        faktor  irasionalitas  manusialah  yang  bisa  menjelaskan  mengapa  pelaku  waxing  dan
        threading  sampai  hari  ini  tidak  diajukan  ke  mahkamah  internasional.  Setidaknya  itulah
        definisiku  pribadi  ketika  secarik  kain  berbentuk  plester  beroleskan  karamel  yang
        ditempelkan di betisku ditarik sekaligus oleh kapster India berwajah innocent itu.

          Aku berteriak nyaring.


          “Don’t mind her. She’s a virgin. Please continue,” celetuk Koso kepadanya.

          Aku tidak suka kekerasan. Tapi, ingin sekali rasanya melayangkan sebuah benda, apa
        pun, ke muka Koso saat itu. Sayangnya, semua benda sudah disingkirkan jauh-jauh dari
        jangkauanku.

          Setelah kaki dan tangan, perempuan India itu ternyata masih belum selesai. Membawa
        seutas benang, ia berdiri di atas mukaku, tersenyum manis, “Close your eyes, Miss.”
   171   172   173   174   175   176   177   178   179   180   181