Page 177 - Supernova 4, Partikel
P. 177

Aku  manut  karena  kupikir  tidak  mungkin  ia  menjerat  leherku  dengan  benang  jahit.
        Setidaknya tempat ini masih tempat penyiksaan. Bukan pejagalan.

          “Ouch! Ouch! Aww! Aaaaw!”

          Benang  itu  ternyata  dipakainya  untuk  mencabuti  alisku.  Perihnya  bukan  main.  Setiap
        entakan benang terasa bagai silet yang mengoyak kulit.

          “Koso, I hate you!” teriakku dengan mata terpejam.

          “Zarah,  percaya,  deh.  Muka  kamu  cantik  banget  sekarang.  Mata  kamu  jadi  tambah

        mencolok. Alis kamu rapi—”

          “I HATE YOU!”

          Beberapa  kapster  lain  yang  sedang  menganggur  akhirnya  menontoni  kami  sambil
        cekikikan. Terdengar kasak-kusuk mereka dalam bahasa Hindi yang tak kumengerti.

          Aku nyaris pingsan ketika Koso bilang bahwa secara teratur ia melakukan waxing dan
        threading di area “bikini”. Mereka menyebutnya layanan Brazilian waxing—meski jelas-
        jelas dilakukan di permukiman India. Aku mengancam akan melakukan tindak kriminal
        jika Koso berani menjebakku untuk Brazilian waxing.

          “Tempat ini seharusnya dilaporkan ke Komisi Perlindungan Perempuan,” bisikku geram
        kepada Koso, “dan Brasil harusnya ditindak oleh PBB karena menciptakan siksaan tidak

        berperikemanusiaan bernama Brazilian waxing. Dan kamu… kamu sadomasokis!”

          Semua ancaman dan umpatanku dibalas Koso dengan tawa panjang.
   172   173   174   175   176   177   178   179   180   181   182