Page 178 - Supernova 4, Partikel
P. 178

Lima menit kemudian, terdengarlah teriakan garang perempuan hutan, membahana dari
        bilik kecil sebuah salon di Southall.

          Kini, aku tahu pasti. Neraka itu ada.





        Bagaimana aku masih keluar hidup-hidup dari tempat itu tetap menjadi misteri Ilahi.

          “It’s not that bad, right?” tanya Koso. Berani-beraninya.

          “I still hate you.”

          “Perjuangan yang tadi kamu lewati di salon itu akan terbayar di sini,” ujarnya sambil
        memasuki sebuah toko. Aku berhenti sejenak untuk mengecek. Jebakan Koso di Southall
        membuatku lebih berhati-hati.

          Ternyata, toko yang dimasukinya adalah toko lingerie dan pakaian dalam. Oke. Selama
        tidak ada karamel dan gelondongan benang, aku mau toleransi.


          Belum apa-apa, Koso sudah dengan lincahnya mencomot barang-barang dari gantungan.
        Ada  celana  dalam  warna  merah  darah  dengan  model  cawat  yang  sangat  aneh,  hanya
        berupa  tali  bentuk  segitiga  dan  sejumput  renda.  Ada  bra  berbahan  menerawang  yang
        tipisnya  seperti  jaringan  epidermis.  Ada  daster  sama  menerawangnya  dengan  panjang
        hanya sepangkal paha.

          “Kamu gila kalau mengira saya sudi mengenakan benda-benda itu. Those are not even
        clothes. I don’t know what they are!”

          “Coward,” Koso mencibir.

          Sepuluh menit kemudian, kami keluar dari toko itu. Semua yang tadi dipilih Koso sudah

        berpindah ke kantong kertas. Dan, sekarang tergantung di tanganku.

          Program renovasinya selesai sudah.




        Malam itu, aku membuat Storm menunggu hampir sepuluh menit di ruang tengah. Tidak
        pernah terjadi sebelumnya. Jika ia menjemput, biasanya aku langsung keluar tanpa ragu.

          Tidak malam ini. Segalanya terasa tidak pas. Baju ini terlalu pendek. Rambut ini terlalu
        dibuat-buat. Riasanku terlalu tebal. Sepatu ini terlalu feminin. Tas ini konyol. Aku ingin

        menghilang saja.

          Setelah berkali-kali diyakinkan oleh Koso, sampai ia nyaris menjambak-jambak rambut
        saking  gemasnya,  aku  keluar  malu-malu.  Storm  langsung  terduduk  tegak  di  sofa.
        Menatapku tanpa kedip. Aku ingin kabur rasanya.

          “You’re a princess,” ucap Storm setengah berbisik. Bola matanya bersinar penuh cinta.
        Dan, seketika aku ingin luluh lantak ke tanah.

          “A true beauty, isn’t she?” Koso mengedipkan matanya.
   173   174   175   176   177   178   179   180   181   182   183