Page 179 - Supernova 4, Partikel
P. 179

“What  did  you  do  to  my  girl?”  Storm  berseru  kepada  Koso  seraya  merangkul
        pinggangku. Menciumku hangat.

          “Happy  birthday,  sweetheart.  Selamat  bersenang-senang.  Please,  come  back  late!”
        Koso berpesan.

          Aku tak pulang ke apartemen Koso malam itu. Sepanjang akhir pekan, aku menetap di
        tempat Storm. Tidak keluar-keluar. Kami terlalu sibuk di dalam kamar.





        Senin pagi, baru aku kembali ke apartemen Koso. Anak itu sudah pergi latihan Pilates saat
        aku tiba.

          Di  meja  dekat  televisi,  aku  melihat  sebuah  boks  berpita.  Ada  amplop  hijau  pupus
        terhampar  di  bawahnya.  Secarik  Post-it  kuning  menyala  ditempel  di  atas  boks  persegi
        panjang itu. Tulisan Koso: Untuk Zarah.

          Keningku berkerut. Koso sudah duluan memberi “paket” hadiahnya, jadi ini pasti dari
        orang  lain  lagi.  Semangat,  kusambar  amplop  hijau  itu.  Sebuah  kartu  cantik  bertuliskan

        “Happy Birthday”. Di halaman dalam, tertera tulisan tangan Paul:

                                     What else can I give to a woman who has

                                                      everything?

                                                                                                               P.

          Kubuka boks persegi itu. Isinya adalah foto 5R berbingkai kayu. Aku sedang mendekap
        Sarah dari belakang. Kami berdua bersandar di bangku kayu dekat dek pemberian makan
        orangutan.  Latar  belakang  yang  bokeh  pekat  mengaburkan  semua  objek  kecuali  kami
        berdua, seolah seisi dunia lenyap, menyisakan aku dan Sarah. Aku tak tahu kapan foto itu

        diambil dan di mana Paul bersembunyi saat membidik kami. Yang bisa kusimpulkan, foto
        ini diambil diam-diam.

          Kupandangi  foto  itu  lama.  Sarah  di  pangkuanku,  tanganku  yang  memeluknya  dan
        dipeluk balik olehnya. Tatapan kami berdua yang entah melihat apa. Dan, hadirnya Paul
        yang menyaksikan itu semua, entah dari mana.

          Kuletakkan  bingkai  foto  itu  dalam  posisi  tegak  di  meja.  Di  sofa,  aku  duduk
        memandangi,  meringkuk  sambil  mendekap  bantal.  Tangisan  rindu  adalah  hadiah  ulang
        tahun yang kudapat berikutnya.


                                                                                                             11.

        Minggu pagi dan aku harus kerja keras di tempat Zach. Sementara aku menyortir foto-foto
        dari tugasku terakhir, Zach sibuk bereksperimen di dapur. Konon, ia baru saja diajari tip
        baru  untuk  membuat  omelet  yang  paripurna.  Zach  berniat  menyempurnakan  tekniknya
        pagi  ini,  memasak  omelet  berkali-kali  sampai  sesuai  dengan  kesempurnaan  yang  ia
        targetkan, dan untuk itu ia sudah ditemani sebaskom telur.

          “You will help me to eat them all later. Right, ladies?” teriaknya dari dapur.
   174   175   176   177   178   179   180   181   182   183   184