Page 180 - Supernova 4, Partikel
P. 180

Aku dan Kim berpandang-pandangan. Serempak, kami teriak, “NO!”

          “Minggu  lalu,  dia  terobsesi  bikin  sup  krim  jamur.  Saya  harus  menghabiskan  dua
        mangkuk besar! Berat saya langsung naik sekilo! And now he’s stuffing me with eggs. No
        way,” omel Kim.

          Ponselku tahu-tahu berbunyi. Sebuah pesan masuk. Keningku berkerut.

          “Everything’s OK?” tanya Kim.

          “Ya. Storm mau mampir kemari,” aku membaca ulang lagi pesan itu. “Tumben.”

          “He terribly misses you, perhaps.”


          “Kami baru kemarin ketemu, kok. Ah, well. I’m just being lucky.” Aku mengangkat bahu
        sambil nyengir lebar.

          Kim langsung melempar lap ke mukaku, “You snob.”




        Setelah berhasil lolos dari gempuran omelet Zach, aku dan Storm duduk di sebuah kafe
        pinggir jalan, memesan bagel dan salad.

          “Kok, kamu sampai tumben-tumbenan nyusul ke tempat Zach?” tanyaku. “Not that I
        mind. I love seeing you every day,” aku buru-buru menambahkan.


          Storm mencium pipiku. “I can’t get enough of you as well,” katanya. “Nggak ada yang
        penting-penting banget, sih. Saya cuma pengin ngobrol sebentar. In private. Makanya saya
        ajak kamu ke sini.”

          “Nggak  ada  yang  penting,  tapi  kamu  perlu  bicara  in  private?  That’s…  odd,”  aku
        tersenyum geli.

          “Saya mau minta izin untuk sesuatu.”

          “Izin?” Konsep baru. Storm tidak pernah minta izin seformal ini sebelumnya.

          “Saya ingin memotret Koso.”

          Sejenak senyap sebelum tawaku muncrat. “Ya, ampun. Kamu mendatangi saya khusus

        untuk itu?”
          “Saya ingin membuat seri portraiture tentang penari. Life of a dancer, sort of thing. Jadi,

        saya  pengin  memotret  Koso  saat  latihan,  show,  dan  mungkin  sedikit  kegiatan  sehari-
        harinya,” Storm berhenti untuk menggenggam tanganku. “Look. She’s your best friend, I
        know.  Tapi,  justru  itu,  saya  harus  lebih  hati-hati  menjaga  perasaan  kamu.  Kalau  kamu
        sepenuhnya nyaman dengan proyek ini, baru saya jalan.”

          “Boleh,” aku mengangguk.

          “You’re sure?”

          “Positive,” tandasku mantap. “Koso pasti senang. Saya yakin ini bakal jadi foto-foto
        terbaiknya.”
   175   176   177   178   179   180   181   182   183   184   185