Page 181 - Supernova 4, Partikel
P. 181

“I love you. You’re the best,” Storm mengecup bibirku.

          Aku menggeleng, “You are.”




        Dari  hasil  mencuri-curi  waktu  karena  keduanya  sama-sama  sibuk,  baru  dua  bulan
        kemudian seri foto penari itu selesai.


          Koso bangga habis-habisan melihat hasilnya. Kami semua pun terkagum-kagum. Dan,
        yang  terpenting,  Storm  amat  puas.  Beberapa  sudah  pasti  akan  masuk  ke  materi
        pamerannya.

          Storm mencetakkan sejumlah foto terbaik untuk diberikan kepada Koso. Di dalam kotak,
        foto-foto itu disimpan dan dibawa Koso ke mana-mana. Bolak-balik ia lihat dan pamerkan
        kepada teman-temannya. Termasuk aku. Teman serumahnya.

          “Yang ini yang saya paling suka,” Koso menunjukkan foto ketika ia sedang berputar di
        udara.


          “Saya sudah lihat foto itu puluhan kali, Sayang.” Aku meringkuk di sofa, meraih buku.
        Siap membaca.

          “Kamu belum pernah kasih tahu mana yang jadi favoritmu,” Koso membuka boks lalu
        menebarkan foto-foto itu. Entah untuk kali keberapa.

          “I like them all,” kataku selewat.

          Koso menarik bukuku. “You’re a photographer.  Pasti  ada  satu  yang  bisa  kamu  pilih.
        Please, I really want to know.”

          Aku menghela napas. Terpaksa duduk tegak, memilih foto-foto yang sudah begitu sering
        kulihat itu.

          “Ini,” tunjukku.

          “Yang ini?” cetusnya heran. “Kenapa? Apa spesialnya?”


          Pertanyaan  bagus.  Aku  memilih  asal-asalan,  murni  intuisi.  Dan  akhirnya,  kupandangi
        lama foto itu. Iya, kenapa?

          “Karena  foto  ini…”  Aku  berusaha  menerjemahkannya  ke  dalam  kata-kata.  Foto  itu
        mengingatkanku pada hadiah ulang tahun Paul. Foto yang diambilnya diam-diam. Secara
        teknis, tak ada yang luar biasa. Namun, foto semacam itu berbicara. Ada bahasa rasa yang
        bersuara  lantang,  yang  hidup  dan  mampu  keluar  dari  gambar,  menjangkau  hati.
        Menyentuhnya.

          Di foto itu, Koso tampak sedang ngobrol dengan penari lain di teater saat geladi resik.

        Foto itu diambil dari arah atas, mungkin dari balkon. Pencahayaan yang tepat menyinari
        sudut-sudut terindah wajah Koso. Tawanya yang lepas dan matanya yang bersinar tampak
        tulus dan menawan. Aku yakin, pada momen itu, Koso sama sekali tidak sadar ia sedang
        difoto.  Dan,  aku  membayangkan,  Storm  yang  memata-matai.  Menunggu  momen  yang
        tepat untuk membidik, mengabadikan keindahan yang diintai mata siaganya.
   176   177   178   179   180   181   182   183   184   185   186