Page 182 - Supernova 4, Partikel
P. 182

“Karena foto ini membuat saya cemburu.”

          Gantian Koso yang tertegun. Ia lalu tergelak. “So much for a photographer’s point of
        view!”

          Beberapa hari kemudian, foto yang kupilih itu dibingkai oleh Koso. Dipajang di sebelah
        tempat tidurnya.

                                                                                                             12.

        “Storm,  kamu  sudah  tidur?”  panggilku.  Siluet  punggungnya  yang  membelakangiku

        tampak  tenang,  napasnya  mengembus  teratur.  Kamar  ini  hanya  diterangi  oleh  lampu
        jalanan dari jendela yang tirainya tak pernah ditutup, kebiasaan Storm yang selalu ingin
        dibangunkan oleh matahari pagi. Kusentuh punggungnya hati-hati.

          Perlahan,  siluet  itu  bergerak.  Storm  memutar  tubuhnya,  membuka  mata,  tersenyum
        samar, “Yes, love?”

          “I miss my father.”

          Mendengar  itu,  Storm  membuka  matanya  lebih  lebar,  berusaha  mengumpulkan
        kesadarannya.

          “Tujuan awal saya ke London adalah supaya saya punya akses lebih baik untuk mencari
        ayah  saya.  Sudah  hampir  dua  tahun  saya  di  sini,  tapi  saya  belum  berbuat  apa-apa,”

        keluhku.

          “Kamu, kan, sibuk, Sayang. You’re hardly in town.”

          “I love my life here, Storm. I love you. I love my work. Sekarang saya sudah bisa pergi ke
        belahan dunia mana pun yang saya mau. Seharusnya saya menggunakan kesempatan itu
        untuk mencarinya. Semakin lama saya diam, semakin saya merasa mengkhianati Ayah….”

          “Ada yang bisa saya bantu?”

          Sungguh, aku pun tak tahu harus memulai dari mana. “Kamera itu satu-satunya petunjuk

        yang saya punya,” gumamku.
          “Kita bisa mulai dari sana.”


          “Tiga ratus orang, Storm. It shouldn’t be that hard, right?”

          Storm mengelus wajahku, “And you shouldn’t be so hard on yourself, okay?”

          Ibu Inga pernah mengeluarkan peringatan yang sama, yang membuatku jadi bertanya-
        tanya, apakah memang aku punya kecenderungan sekuat itu untuk menempa diri demikian
        keras?

          Storm  merengkuhku,  menempelkan  kepalaku  di  atas  bahunya.  Samar  tercium  sisa
        parfum yang berkumpul di lehernya. Aku bisa selamanya tidur di sana.

          “Apa pun yang terjadi, saya akan selalu mendukung kamu, Zarah,” bisik Storm.

          Aku memeluknya lebih erat.
   177   178   179   180   181   182   183   184   185   186   187