Page 183 - Supernova 4, Partikel
P. 183

Dengan  koneksinya,  Storm  berusaha  mencari.  Baik  lewat  internet  maupun  langsung
        mengunjungi  toko-toko  yang  menjual  kamera-kamera  collectible.  Bolak-balik  kami
        mendengar respons yang serupa.

          “Kamera semacam ini memang kepemilikannya lebih mudah dilacak karena pembelinya
        nggak banyak.” Itu yang selalu kami dengar.

          “Jadi, kita bisa cari tahu siapa pemilik aslinya?” Lalu kami bertanya.

          “Secara teori, iya. Tapi, kalian harus sewa detektif.” Selalu begitu.


          Begitu kami meminta daftar nama untuk disusuri, pencarian langsung mentok. Ternyata,
        tidak sesederhana itu. Dalam lima tahun terakhir, satu kamera collectible bisa berpindah
        dua-tiga pemilik, tapi bisa juga disimpan seumur hidup oleh satu orang yang sama. Dan,
        pembeli tiga ratus unit kamera itu tersebar di seluruh dunia.

          Susah  payah,  aku  dan  Storm  akhirnya  berhasil  mengumpulkan beberapa nama. Tidak
        ada  yang  sesuai  dengan  nomor  seri  kameraku.  Masih  lebih  dari  250  nomor  seri  yang
        belum terlacak.

          Bagai  besi  yang  menua  oleh  waktu  dan  kompleksitas  cuaca,  petunjukku  satu-satunya

        pun mulai tergerogoti korosi. Insignifikansi.

                                                                                                             13.

        Akhir musim panas tahun 2001. Hari yang tidak mungkin kulupakan.

          Aku baru kembali dari tugas dua minggu di Kepulauan Fiji untuk pemotretan bawah air
        pertamaku.  Tiba  di  London  tepat  pada  akhir  pekan.  Langsung  aku  pulang  ke  tempat
        Storm, menghabiskan dua hari bersamanya sebelum minggu yang baru kembali dimulai
        dan kami tenggelam dalam pekerjaan masing-masing.

          Begitu banyak foto yang perlu kuedit, dan Storm harus berangkat ke Spanyol esok lusa.

        Aku bahkan tak sempat pulang ke apartemen Koso. Dari apartemen Storm, aku langsung
        menuju tempat Zach di mana aku bisa meminjam komputernya yang supercepat.

          Dalam perjalanan singkatku dari stasiun underground menuju rumah Zach, aku mampir
        ke  kios  penjual  koran  untuk  membeli  titipannya.  Foto  Zach  masuk  ke  Photography
        Monthly dan ia ingin memborong untuk dokumentasi, alias dipamerkan.

          Gara-gara  belanja  borongan,  bapak  tua  baik  hati  pemilik  kios  itu  memberiku  satu
        eksemplar  koran  sebagai  bonus.  Ketika  kuamati,  ada  stempel:  “Promotion  Copy.  NOT
        FOR SALE”.


          Aku  terkekeh  sendiri.  “Pantasan,”  gumamku.  Tawaku  memudar  cepat.  Mataku
        tertumbuk pada satu berita di ujung bawah kanan. Penemuan terbaru organisme terbesar.

          Spontan, langkahku melambat. Ya. Bukan paus biru, bukan pohon sequoia, melainkan
        fungi. Armillaria ostoyae. Lagi.

          Terduduklah aku di bangku dekat kios. Ingatanku melayang ke masa kecil, saat Ayah
        mengatakan  bahwa  Armillaria  ostoyae  adalah  organisme  tunggal  terbesar  di  dunia,
        terbukti dengan ditemukannya hamparan Armillaria ostoyae meliputi 600 hektare hutan.
   178   179   180   181   182   183   184   185   186   187   188