Page 184 - Supernova 4, Partikel
P. 184

Dan ia berteori, suatu saat nanti akan ditemukan yang lebih besar lagi. Ketika kutanya dari
        mana ia bisa tahu, Ayah dengan mantap menjawab bahwa fungi sendirilah yang memberi
        tahunya.

          Di lembar surat kabar itu, tertulis penemuan baru hamparan Armillaria ostoyae. Tumbuh
        menutupi area hutan di Oregon seluas 880 hektare. Tepi luarnya membentang sepanjang
        5,6 kilometer, akar mereka menancap hingga satu meter ke dalam tanah.


          Kabar  itu  membuat  bulu  kudukku  meremang.  Menyapuku  dengan  gelombang  emosi
        yang membuatku berair mata. Aku tak boleh berhenti mencari, batinku.

          Kulipat  surat  kabar  itu,  kumasukkan  ke  ransel,  dan  kuputar  langkahku  kembali  ke
        stasiun.  Aku  merasa  telah  membuang  waktu.  Kuketik  pesan  untuk  Zach:  Be back with
        your magz by lunch time.

          Aku harus kembali menemui Storm.




        Tak  sampai  45  menit,  aku  sudah  di  depan  pintu  Storm  lagi.  Aku  mengetuk.  Dan,

        mengetuk. Lama, pintu itu tak dibuka.

          Ketika akhirnya Storm membukakan pintu, aku tahu ada yang salah.

          Storm menyambutku dengan ekspresi gado-gado. Ada senyum, kaget, gugup, takut, dan
        marah yang ditekan. Ia berdiri kaku seolah menyambut tamu asing. Storm yang tadi pagi
        begitu luwes dan mesra disulap lenyap entah ke mana.

          Aku memeluknya. Ia membalas, dingin.

          “Kamu ngapain balik lagi?” gumamnya.

          “Saya  baca  berita  di  koran.  They  found  another  honey  mushroom  infested  forest  in
        America.  Organisme  terbesar  di  dunia.  Kamu  ingat  cerita  ayah  saya  dan  apa  yang

        dikatakannya tentang Armillaria ostoyae, kan? Ini pertanda…,” aku berhenti. Semua ini
        terlalu aneh untuk tidak ditanyakan. “Storm. Kamu kenapa?”

          “Bisa, nggak, kamu pergi dulu? Nanti saya hubungi kamu. Saya nggak bisa ngomong
        sekarang,” jawab Storm ketus.

          Aku tak tahu apa yang terjadi. Yang jelas, ada sesuatu yang besar. Yang tidak beres.

          “Oke, saya pergi,” aku mengangguk. “But, are you sure you’re okay?”

          Kudengar pintu kamar terbuka. Seseorang keluar dari sana. Mengenakan sweter kasmir
        hitam,  rambut  keriting  yang  terurai,  berdiri  nanar  menatapku  sambil  menggigit  ujung

        kukunya. Koso.

          “Koso? Kok, kamu ada di….”

          “I’m sorry, love. I really am,” Koso setengah berbisik. Jelas, ia menahan tangis.

          Aku gantian menatap Storm yang tak henti mengusap wajahnya sambil menghela napas
        berat.
   179   180   181   182   183   184   185   186   187   188   189