Page 23 - Supernova 4, Partikel
P. 23

telak  bagai  gravitasi.  Tak  terhitung  seringnya  ia  mengendap,  menyelinap  mencuri-curi
        pergi ke kaki bukit itu. Setiap penduduk yang melihat pasti melaporkannya kepada Abah.
        Lecutan ikat pinggang, gebukan tangkai kemoceng, adalah kepastian yang menanti Ayah
        begitu sampai di rumah. Semua itu tidak membuatnya jera.

          Semakin  Ayah  dewasa,  semakin  sulit  bagi  Abah  menghindarkan  anaknya  dari  Bukit
        Jambul dengan cara pendisiplinan. Akhirnya, ia hanya bisa berdoa. Berharap sinar dalam

        mimpinya itu menjauhi Ayah.

          Penduduk, yang hanya berani memandang dari jauh, terheran-heran melihat Ayah yang
        seolah-olah bisa keluar-masuk Bukit Jambul seenak udel. Tak ada yang tahu jalur mana
        dan  cara  apa  yang  ditempuh  Ayah.  Padahal,  jagoan-jagoan  sepuh  di  kampung  bilang,
        hutan itu dikepung belukar rotan yang tak bisa ditembus. Sudah mereka coba berkali-kali
        dan  selalu  gagal.  Entah  mereka  tersesat,  atau  seperti  tersirep  dan  tak  sampai  ke  mana-
        mana hingga akhirnya terpaksa keluar lagi.


          Ayah sendiri tak pernah secara eksplisit mengumumkan bahwa ia berhasil menembus
        Bukit  Jambul.  Itu  hanya  kecurigaan  warga  yang  sering  mendapati  Ayah  menghilang  di
        kaki Bukit Jambul dan baru kelihatan lagi berjam-jam kemudian. Kadang-kadang, sampai
        setengah hari ia menghilang. Dosis itu pun kian meningkat. Ayah mulai bisa menghilang
        sampai malam. Tidak mungkin Firas menghabiskan waktu sebegitu lama kalau cuma di
        luar bukit, begitu kesimpulan orang-orang.

          Tiap ditanya benarkah ia masuk ke Bukit Jambul, apa yang ia temukan di sana, Ayah

        membungkam. Entah ia sengaja entah tidak, kebisuannya makin menggelembungkan citra
        misterius Bukit Jambul. Bagi Ayah, itu mungkin lebih menguntungkan karena kegiatannya
        jadi  tidak  diganggu.  Warga  juga  tak  bisa  berbuat  banyak.  Bagaimanapun,  Ayah  adalah
        jaminan  hidup  atas  perjanjian  tak  tertulis  Kampung  Batu  Luhur  dengan  kekuatan  yang
        bersemayam di tempat angker itu. Menggunjingkan dan berspekulasi adalah hal terjauh
        yang bisa penduduk lakukan.


          Saat  usiaku  sebelas  tahun,  sebuah  krisis  terjadi.  Krisis  yang  mengguncang  stabilitas
        segitiga  eksistensi  Ayah.  Aku  ingat  karena  pada  tahun  itulah  Ibu  sedang  mengandung
        adikku yang ketiga. Bayi yang tak pernah diberinya nama.

          Aku hanya bisa menyebutnya “Adek”.

                                                                                                               5.

        Dari  awal  kehamilan,  sering  kudengar  Ibu  mengeluh  bahwa  itulah  kehamilannya  yang
        paling susah. Tujuh bulan pertama, ia habiskan hampir seluruh waktunya di dua tempat
        saja: ranjang dan kamar mandi. Tergolek di kasur atau nungging di atas lubang WC. Ibu

        muntah-muntah, meludah terus-terusan, kehilangan nafsu makan, sakit-sakitan.
          Bersamaan dengan itu, fokus Ayah seperti disedot ke tempat lain. Ia tidak lagi penuh

        perhatian  seperti  biasanya.  Pelajaranku  mulai  bolong-bolong.  Hara  tidak  lagi  dikeloni
        dongeng  pengantar  tidur.  Ibu  sering  ditinggal  sendirian.  Kami  semua  kehilangan  Ayah.
        Untungnya, beberapa ibu dari Batu Luhur secara sukarela bergantian menemani kami di
        rumah.
   18   19   20   21   22   23   24   25   26   27   28