Page 185 - Supernova 4, Partikel
P. 185

“Kami  sebetulnya  sudah  mau  ngomong  sama  kamu,  but  we  just  don’t  know  how,”
        gumam Storm.

          “Kita semua sayang kamu, Zarah,” ucap Koso lagi, parau, “I cannot do this anymore. I
        cannot hide from you.”

          Aku  menatap  mereka  berdua.  Antara  percaya  dan  tidak  atas  apa  yang  kulihat.  Meski
        mulut mereka bolak-balik bicara tentang cinta dan kasih sayang, yang kurasakan detik itu

        adalah sebaliknya. Mereka tengah menikamku. Berkali-kali.

          Potongan-potongan gambar dan ingatan ganjil yang selama ini tersebar acak mendadak
        memiliki kejernihan. Semua yang selama ini kutangkap, kubaca selewat, dan kupendam
        karena rasanya tak nyaman, akhirnya beroleh konteks yang sempurna. Bagaimana Storm
        sering mendaratkan tatapan kepada Koso satu-dua detik lebih lama daripada seharusnya,
        bagaimana  Koso  sering  menyentuh  kulit  Storm  lewat  gesture  yang  kupikir  bersahabat,
        bagaimana Koso sering diam-diam bertelepon dengan seorang misterius yang membuat

        wajahnya merona, tapi ketika ditanya selalu bilang tidak lagi dekat dengan siapa-siapa,
        bagaimana Storm hanya mau mengobrol denganku singkat-singkat di telepon, bagaimana
        kami  bertiga  melewatkan  waktu  bersama  dan  ada  momen-momen  ketika  akulah  yang
        terasa seperti orang menumpang.

          Baru sekarang segalanya menjadi jelas. Selama ini aku buta.

          “Kamu boleh benci saya, Zarah,” isak Koso, “tapi saya nggak pernah punya niat sama
        sekali menyakiti kamu.”

          Kembali kutatap Koso, yang pipinya sudah berhias air mata. Dalam sekejap, rekaman

        masa-masa  kami  bersama  kembali  terulang.  Hari  kami  bermain  ke  ladang  Batu  Luhur
        bersama Hara. Hari pembagian rapor ketika nama Koso dipanggil sebagai salah seorang
        yang  naik  kelas.  Hari  aku  menyalaminya  di  lapangan  upacara  ketika  Bu  Kartika
        mengumumkan kepindahannya.

          “Kenapa kamu nggak pernah kirim surat?”

          Koso tergagu. “S–surat…?”

          “Kamu  pindah  ke  London,  dan  kamu  janji  mengirimi  saya  surat.  Saya  menunggu
        bertahun-tahun. Kenapa kamu nggak pernah kirim? Kenapa kamu nggak menepati janji?”

          Mata Koso mengerjap-ngerjap, butir air matanya lebih banyak lagi berjatuhan, “I… I

        lost your addresss.”

          Kepalaku  pening.  Segitu  saja?  Sesederhana  itu?  Tahunan  penantianku  hanya  karena
        secarik kertas catatan alamatku raib?

          “Kamu sahabat saya terbaik, Zarah. I love you so much. This is killing me,” isaknya lagi.

          Kuatur napasku untuk bisa bersuara, untuk bisa berkata kepadanya, “Saya nggak ngerti
        kamu ngomong apa.”

          Koso memohon, “Please, forgive me.”

          “Ini salah saya,” tahu-tahu Storm menyambar. “Zarah, jangan salahkan Koso. This is all
   180   181   182   183   184   185   186   187   188   189   190