Page 24 - Supernova 4, Partikel
P. 24

Ibu  mulai  menyebut-nyebut  Bukit  Jambul.  Ia  curiga  tempat  itu  membawa  pengaruh
        buruk bagi Ayah. Aku punya tersangka lain. Fungi.

          Aku tahu Ayah mengultivasi banyak jenis fungi. Tetapi, belakangan ada satu jenis yang
        menjadi  fokusnya.  Aku  bisa  melihat  dari  kilat  di  bola  matanya  saat  bercerita,  dari
        bagaimana  fungi  satu  itu  mendominasi  celotehannya,  dari  coretan-coretan  di  jurnalnya
        yang kucuri intip sesekali. Psilocybe.


          Ayah  paling  gembira  jika  menemukan  genus  Psilocybe  muncul  di  kebun-kebun
        permakultur asuhannya di Batu Luhur. “Ini pertanda baik, Zarah,” katanya.

          Aku memandangi jamur-jamur mungil berwarna kecokelatan itu. “Memang artinya apa,
        Yah?”

          “Psilocybe muncul untuk menunjukkan ada harmoni yang baik antara ekosistem dan apa
        yang kita lakukan. Dia merestui kegiatan kita di sini,” Ayah tersenyum lebar.

          Pernah  kudapatkan  segenggam  Psilocybe  cubensis  kering  disimpan  di  kotak  bekal
        tempat  Ibu  biasa  membawakan  kudapan  untuk  Ayah.  Berhubung  ditemukan  di  tempat

        makanan, aku langsung mengira itu bisa dimakan.

          Kucomotlah satu. “Kok? Disimpan di sini? Memangnya jamur yang ini bisa dimakan
        juga ya, Yah?”

          Panik, Ayah merampas jamur itu dari tanganku. “Kamu nggak boleh makan ini, Zarah.
        Awas, ya.”

          “Ayah makan?”

          “Sekali-sekali,” katanya ketus. Ayah memang tak pernah mau bohong kepadaku. Meski
        kadang berat untuknya jujur, kepadaku Ayah selalu memilih berterus terang.

          “Kenapa Zarah nggak boleh?”

          “Ini bagian dari eksperimen penting. Tidak bisa dilakukan sembarang orang.”


          “Kan, Zarah bukan orang sembarang.”
          Ayah  geleng-geleng  kepala  menatapku.  “Kamu  masih  kecil,  Zarah.  Ayah  belum  tahu

        dosis yang tepat untuk anak sekecil kamu. Bisa-bisa nanti kamu keracunan.”

          “Memangnya jamur ini beracun, Yah?”

          “Mungkin,” katanya pelan, “bagi orang yang tidak siap.”

          “Zarah belum siap?” tanyaku lagi.

          Ayah berkata tegas, “Belum.”

          Sejak  aku  tahu  Ayah  mengonsumsi  beberapa  jenis  Psilocybe,  aku  pun  mulai  melihat
        benang  merah  atas  potongan-potongan  kecurigaanku.  Beberapa  kali  aku  melihat  Ayah
        meracau sendirian di kebunnya di Batu Luhur. Matanya fokus, tapi kesadarannya seperti
        ada  di  tempat  lain.  Pernah  juga  aku  melihatnya  terhuyung  di  saung  dengan  napas

        tersengal, keringat membanjiri keningnya. Kadang ia tergolek, menatap langit-langit saung
        dengan mulut mengigau entah apa.
   19   20   21   22   23   24   25   26   27   28   29