Page 25 - Supernova 4, Partikel
P. 25

Kecurigaan  Ibu  terhadap  Bukit  Jambul  juga  bisa  dimengerti  karena,  pada  saat  yang
        bersamaan dengan kegilaannya pada Psilocybe, Ayah memang makin sering menghilang.
        Sudah bukan rahasia bahwa terkadang Ayah menyelinap keluar malam hari dan pulang
        lagi  subuh-subuh.  Tapi,  kali  ini  Ayah  bisa  menghilang  sampai  24  jam.  Ia  kembali  ke
        rumah dengan wajah letih, tak mau bicara, dan langsung tidur tanpa penjelasan apa-apa.

          Akhirnya, Ibu tak tahan lagi. Secara blak-blakan ia meminta agar Ayah berhenti ke Bukit

        Jambul.

          “Kata siapa aku ke sana?” protes Ayah.

          “Nggak usah menyangkal, Firas. Semua orang juga tahu, kalau kamu hilang itu artinya
        kamu sedang pergi ke tempat itu.”

          Ayah terdiam.

          “Itu tempat syaithan! Apalagi  aku  sedang  hamil  begini.  Aku  nggak  mau  kamu  bawa
        pulang kutukan dari tempat itu.”

          “Kamu nggak tahu di sana ada apa, Aisyah. Jangan ngomong sembarangan,” balas Ayah
        gusar.


          “Abah sendiri bilang, di sana ada kekuatan gelap. Kamu itu pasti sudah kena sirep. Mana
        ada orang waras yang mau ke sana?”

          Ayah  menatap  Ibu  lurus-lurus.  Tampak  siap  meledak.  Tapi,  Ayah  memilih  diam  dan
        pergi.

          “Pokoknya kalau sampai ada apa-apa dengan kehamilanku, itu pasti salah kamu!” teriak
        Ibu.

          Ayah membanting pintu. Tak lama terdengar bunyi kayuhan sepeda. Ia akan menghilang
        lagi.

          Sambil mengusap air matanya, Ibu membelai rambutku. “Maaf, Zarah. Ibu cuma kesal.
        Ibu nggak serius ngomong begitu. Kamu temani Hara, ya? Ibu mau baringan dulu.”


          Aku  mengangguk,  lalu  menggandeng  Hara  yang  waktu  itu  baru  berulang  tahun  yang
        kelima.




        Ketika  sudah  hamil  tua,  Ibu  mewanti-wanti  Ayah  untuk  bersiaga  di  rumah  setiap  hari.
        Ayah lalu cuti mengajar dari kampus. Hanya tugas di Batu Luhur yang tetap ia jalankan
        dengan  alasan  rumah  kami  cukup  dekat  dari  kampung.  Ia  bisa  kembali  kapan  saja

        dibutuhkan.

          Hari itu Ayah tak kembali.

          Menjelang sore, Ibu mulai mulas-mulas. Bidan paling senior di Batu Luhur, Bidan Ida,
        sudah siaga di rumah. Sudah ada pula orang-orang yang diutus untuk menyusul Ayah ke
        Batu Luhur. Mereka kembali dengan tangan hampa. Ayah tak ditemukan di mana-mana.
        Semua ladang, kebun, rumah, sudah disusuri. Hanya satu tempat yang belum. Apesnya,
   20   21   22   23   24   25   26   27   28   29   30