Page 207 - Supernova 4, Partikel
P. 207

betapa khawatirnya dia kehilangan hutan itu. Itu saja yang saya tahu.”

          “Menurut Bapak, mungkinkah ada juga portal di luar tubuh kita? Portal eksternal? Yang
        muncul di satu tempat?”

          “Sangat  mungkin,”  sahut  Pak  Simon  mantap.  “Sudah  banyak  orang  berteori  tentang
        portal  eksternal.  Beberapa  tempat  di  Bumi,  seperti  Segitiga  Bermuda,  diduga  adalah
        portal. Ada juga yang mencurigai bangunan-bangunan sakral seperti Piramida Giza, Kuil

        Osiris, dan banyak lagi.”

          Napasku terhela. Segala informasi ini terlalu berat dicerna dalam jamuan teh sore. “Saya
        berusaha mengerti semua ini, Pak. Tapi, rasanya belum mampu.” Aku memijat pelipisku.

          “Enteogen  adalah  pengalaman  empiris,  Zarah.  Seseorang  harus  mengalami  untuk
        mengerti. Dan, enteogen bukan mainan anak-anak, bukan rekreasi dangkal. Dibutuhkan
        mental  yang  sehat,  tujuan  yang  benar,  dan  ritual  yang  sakral  untuk  memperoleh
        manfaatnya dengan maksimal. Kalau nggak, percuma,” Pak Simon tersenyum. “Tenang
        saja, waktumu masih banyak. Masih ada tempat-tempat yang perlu kita kunjungi, orang-

        orang  yang  perlu  kita  temui,  pengalaman  yang  harus  kamu  cicipi.”  Ia  mengetukkan
        tongkatnya, lalu berdiri sigap, “Yuk, ikut saya. Kita pergi sebentar.”

          “Kenapa Bapak kirim kamera itu?” sambarku.

          Terbit lagi senyum ramahnya. “Saya pernah tanya sama Firas, apa yang bisa saya bantu
        untuk  risetnya.  Dia  cuma  minta  sebuah  kamera.  Dikirimkan  untuk  anak  perempuannya
        bernama  Zarah  pada  ulang  tahunnya  yang  ketujuh  belas.  Untuk  semua  diskusi  dan
        informasi  berharga  dari  ayahmu,  saya  putuskan  untuk  melepas  kamera  koleksi  pribadi

        saya. Cuma itu yang terbaik yang bisa saya berikan. Sampai sekarang, saya terus berharap
        bisa memberikan lebih.”

          Dengan ayunan tongkatnya yang mantap Pak Simon berjalan keluar dari perpustakaan.

          Aku tetap di tempat dudukku. Sebentar saja, pintaku dalam hati. Aku belum sanggup
        berdiri.  Kuhirup  teh  Earl  Grey  dingin  yang  tinggal  menggenang  di  dasar  cangkirku,
        berusaha menelan desakan air mata.

                                                                                                               6.

        Pagi-pagi sekali, dengan mobil Bentley berwarna emas pucat dan sopir bernama Lance,
        kami meluncur meninggalkan Glastonbury ke Salisbury Plain.


          Di  Eropa  bagian  barat  laut,  Salisbury  Plain  merupakan  plato  kapur  terluas,  yang
        menumbuhkan  vegetasi  unik  berupa  padang  rumput  luas.  Sepanjang  mata  memandang,
        tampak  hamparan  rumput  yang  berbukit-berbukit  seolah  tiada  ujung.  Awan  dan  kabut
        memenuhi  langit  dan  bukit  hingga  seluruh  tempat  ini  seperti  dihias  kapas  putih  yang
        mengisi  tiap  celah.  Dari  balik  kabut,  terlihat  beberapa  kelompok  kawanan  ternak  asyik
        merumput, memberi gerak dan kehidupan bagi permadani hijau yang diam bagai lukisan.

          “Tenang,  Zarah.  Saat  kita  tiba  di  Stonehenge,  kabut  ini  akan  hilang  dan  kamu  akan

        melihat sorot matahari yang tak akan kamu lupakan.”

          “Kok, Bapak bisa yakin?”
   202   203   204   205   206   207   208   209   210   211   212