Page 208 - Supernova 4, Partikel
P. 208

“Saya punya peruntungan baik dengan tempat itu,” jawab Pak Simon tenang.

          Seperempat jam kemudian, Lance memarkir mobil di sebuah tempat parkir memanjang.
        Lengang. Hanya ada beberapa mobil terparkir. Kami rupanya salah seorang pengunjung
        pertama.

          Udara  dingin  menusuk  menerpa  kulitku  yang  padahal  sudah  dilapis  jaket.  Dan,  ini
        bahkan bukan musim dingin. Entah kapan aku bisa sepenuhnya beradaptasi dengan iklim

        Inggris. Kubenamkan tanganku yang tak bersarung tangan ke dalam kantong jaket.

          Angin yang bertiup terdengar bersiul-siul lirih. Burung-burung hitam terbang melintasi
        kami. Dan di sanalah, terpisah hanya oleh pagar kawat setinggi dua setengah meter, siluet
        blok-blok  batu  neolitik  menjulang  dari  rerumputan  menggapai  langit.  Aku  tertegun.
        Sesuatu dalam bekunya batu, selimut kabut, siulan angin, dan hamparan rumput luas ini
        meremangkan bulu kudukku.

          “Ayo,  Zarah.  Kita  lihat  lebih  dekat.”  Suara  Pak  Simon  dan  entakan  tongkat  kayunya
        mengguncang lamunanku.


          “Saya  punya  pengalaman  menarik  dengan  Stonehenge,”  Pak  Simon  bertutur.  “Kali
        pertama saya kemari, tempat ini sudah dibatasi dari pengunjung. Kita nggak boleh masuk
        ke lingkaran dalam. Cuma boleh mengelilingi perimeternya. Saya datang pagi-pagi, pada
        hari  biasa,  jadi  nggak  terlalu  banyak  orang.  Waktu  saya  masuk  ke  sini,  tahu-tahu  ada
        bapak tua, berseragam petugas, duduk di lingkaran dalam. Dia ajak saya mendekat. Saya
        tanya,  ‘Bukannya  nggak  boleh  masuk?’  Dia  jawab,  ‘Tapi  ini  hari  Rabu,  kan?  Hari  ini
        boleh.’  Dan  akhirnya,  saya  masuk.  Dia  lalu  menjelaskan  sejarah  Stonehenge.  Saya

        mendengarkan.  Setelah  selesai,  saya  minta  izin  meditasi  di  lingkar  dalam  selama  lima
        menitan. Dia kasih izin. Habis itu saya pulang lagi ke London.

          “Beberapa teman yang saya ceritakan kaget bukan main, apalagi mereka sudah sering ke
        Stonehenge, katanya area dalam itu tidak boleh dimasuki pengunjung umum. Dan, tidak
        ada perkecualian Rabu atau apa pun. Kesimpulan mereka, saya ngibul atau bapak tua itu
        semacam  peri,”  Pak  Simon  terbahak  sendiri.  “Saya  rasa,  kesimpulan  yang  terakhir  itu
        benar.”


          Kepada petugas keamanan yang berjaga di sana, Pak Simon menunjukkan selembar faks
        dan sebuah kartu. Tak lama, kami dipersilakan masuk.

          “Peri  yang  dulu  membawa  saya  masuk  mungkin  sudah  nggak  ada  dan  nggak  akan
        muncul  lagi,  tapi  sekarang  saya  punya  ini,”  Pak  Simon  mengacungkan  kartu  plastik
        semacam kartu kredit bertuliskan English Heritage. “Ada biaya tahunan yang harus saya
        bayar.  Nggak  apa-apa.  Saya  jadi  punya  akses  terbaik  ke  tempat-tempat  bersejarah  di

        Inggris.”
          Kami melewati loket tiket yang masih ditutup. Kafe, toko, semuanya belum beroperasi.

        Hanya seorang petugas yang ditugasi untuk mengikuti kami.

          “Dia bukan guide, cuma mau memastikan kita nggak pegang batu-batu itu,” bisik Pak
        Simon.

          “Memangnya nggak boleh dipegang, Pak?”
   203   204   205   206   207   208   209   210   211   212   213