Page 209 - Supernova 4, Partikel
P. 209

“Cuma burung yang boleh pegang.”

          Aku  nyengir.  Sementara  kami  dijaga  petugas  agar  tidak  menyentuhkan  tangan  ke
        bebatuan  Stonehenge,  kawanan  burung  branjangan  di  sana  sepertinya  menjadikan
        Stonehenge  semacam  tempat  bergaul.  Berjajarlah  mereka  berdiri  di  atas  batu.
        Bercengkerama santai. Kulihat bahkan ada yang bersarang di celah-celah.

          “Sejam lagi tempat ini dibuka untuk umum. Kita dikasih waktu setengah jam di dalam,”

        kata Pak Simon.

          Kami  pun  berjalan  menginjak  rumput,  melewati  setapak  berpagar  rendah  yang
        merupakan batas pengunjung umum. Mendekat ke area Stonehenge.

          Monumen megalitikum berbentuk sirkular dengan dua lingkaran konsentris itu dibentuk
        oleh pilar-pilar batu. Ada dua jenis batu utama yang digunakan, batu pasir dan batu biru.
        Pilar  di  lingkar  luar  Stonehenge  rata-rata  tingginya  empat  meter,  sementara  lapis
        berikutnya yang tertinggi mencapai sepuluh meter dengan berat mendekati lima puluh ton.
        Konon, jumlah batu biru yang asli seharusnya ada 80, kini tersisa hanya 45. Banyak yang

        sudah  bergelimpangan  di  tanah.  Jika  bukan  dilihat  dari  atas,  agak  sulit  untuk  menerka
        bentuk asli yang dimau oleh desainer Stonehenge. Belum lagi misteri fungsi, ritual, dan
        teknologi apa yang dipakai oleh para pembuatnya.

          “Kamu tahu apa itu ley lines, Zarah?” tanya Pak Simon sementara aku masih terpana
        melihat batu-batu besar ini.

          “Ley lines  itu  jalur  arkaik  yang  menghubungkan  tempat-tempat  sakral  di  satu  area,”
        jelasnya langsung. “Ley lines itu istilah modern, tapi sebetulnya banyak tradisi kuno yang

        mengungkapkan konsep serupa. Di Inca dikenal istilah ceque, di Aborigin dikenal istilah
        turinga,  di  Tionghoa  dikenal  dengan  long  mei,  di  Irlandia  dipercaya  ada  fairy  path.
        Pengertiannya  lebih  kurang  sama.  Di  jalur  tersebut  biasanya  dibangun  monumen,
        bangunan, struktur megalitik, apa pun bentuknya, tapi semua itu berfungsi sebagai titik-
        titik penanda. Tidak ada yang tahu persis bagaimana ley lines tercipta. Seringnya, ley lines
        merupakan  warisan  atau  pola  berulang.  Titik-titik  di  mana  katedral  besar  biasanya
        dibangun, misalnya, ada di jalur dari warisan budaya sebelumnya, yakni kuil pagan. Dan,

        budaya pagan mewarisi jalur tersebut dari budaya sebelumnya lagi. Ketika direntangkan
        waktunya kita bisa mendapatkan angka ribuan, bahkan mungkin puluhan ribu tahun dan
        lebih,” tutur Pak Simon.

          “Di  Inggris,  ada  beberapa  ley  lines.  Salah  satunya  St.  Michael’s  Ley  yang  meliputi
        Glastonbury.  Dari  Glastonbury  ada  jalur  geometris  menuju  Stonehenge  yang  dikenal
        dengan Stonehenge Ley, bentuknya segitiga dengan sudut 90 derajat. John Michell, orang
        yang  pernah  intensif  menyelidiki  ley  lines  di  Inggris,  menemukan  pola  geometris

        berbentuk  dekagon  yang  menghubungkan  titik-titik  ini,  mulai  dari  Whiteleaved  Oak di
        Herefordshire, Glastonbury, Stonehenge, hingga Desa Goring di dekat Sungai Thames,”
        lanjutnya.

          “Karena  itu  Bapak  memilih  tinggal  di  Glastonbury?  Karena  ingin  dekat  dengan  ley
        lines?” tanyaku iseng.
   204   205   206   207   208   209   210   211   212   213   214