Page 210 - Supernova 4, Partikel
P. 210

“Salah  satunya,”  Pak  Simon  tersenyum.  “Di  sana  saya  bisa  mengunjungi  simposium
        dengan  gampang,  dekat  ke  Stonehenge,  dekat  ke  Wiltshire,  dekat  ke  Warminster.  Jadi,
        kalau mereka kembali lagi ke daerah sana, saya nggak perlu traveling jauh-jauh.”

          “Mereka siapa?”

          “UFO,”  jawabnya  mantap,  “Warminster  itu  dikenal  sebagai  pusat  UFO-nya  Inggris
        tahun  ‘60–‘70-an.  Di  sana,  UFO  pernah  terlihat  setengah  jam.  Tidak  bergerak.  Seperti

        parkir.”

          “Kalau Wiltshire?”

          “Itu pusat crop circle dunia, Zarah. Tidak ada tempat lain yang mengalami fenomena
        crop  circle  sesering  Wiltshire.  Pola  crop  circle  yang  terindah  dan  terumit  bisa  kamu
        dapatkan di Wiltshire. Jadi, jelas, kan? Di sinilah taman bermain saya,” jawabnya sambil
        tertawa.

          Dalam  hati,  aku  mengagumi  keseriusan  Pak  Simon,  menyadari  kemiripan  sifatnya
        dengan Ayah. Tak heran mereka bisa akhirnya tersambung. Meski bukan ilmuwan, Pak

        Simon  memiliki  kegigihan  untuk  mencari  dan  menggali  sendiri.  Persis  Ayah.  Bedanya,
        Ayah  perlu  berjuang  dengan  segala  keterbatasan.  Sementara,  sarana  berlimpah  dan
        kebebasan bergerak membuat Pak Simon menjalani semua kegiatan penelusurannya bagai
        tamasya.

          “Ley lines bisa ada di Indonesia juga, kan?”

          “Pasti. Cuma saya belum tahu sudah ada yang meneliti atau belum. Kalau Firas sanggup,
        pasti sudah dia yang turun tangan.”

          Aku setuju. Jika saja kaki dan tangannya tidak ditahan oleh begitu banyak pemberat dari

        kondisi dan lingkungan, entah apa saja yang sudah Ayah lakukan.

          “Kalau skalanya adalah Bumi, bentuknya seperti apa ya, Pak?”

          “Tahun ‘60-an, ilmuwan Rusia sudah ada yang mengajukan pola kisi-kisi seperti kristal
        dengan potongan dua belas pentagon. Titik-titik itu menunjukkan matriks energi kosmik.
        Ini sejalan dengan yang pernah dibilang oleh Socrates bahwa Bumi bisa dilihat sebagai
        bola yang dibuat dari sambungan dua belas potongan pentagon.”

          “Dodekahedron,” gumamku.

          “Betul,”  Pak  Simon  mengangguk.  “Seorang  bernama  David  Zink  pernah  memetakan
        kisi-kisi  itu  dan  dia  menemukan  bahwa  posisi  monumen  batu-batu  neolitik  di  dunia

        mengikuti kisi-kisi yang sama. Artinya, di titik-titik itu akan selalu ada fenomena yang
        berpengaruh terhadap peradaban manusia. Juga jangan heran kalau ada anomali alam di
        sana.”

          “Bapak percaya kisi-kisi itu betulan ada?”

          “Kamu percaya Bumi ini makhluk hidup, Zarah?” ia bertanya balik.

          “Selalu,” tandasku. Tanpa ragu.
   205   206   207   208   209   210   211   212   213   214   215