Page 26 - Supernova 4, Partikel
P. 26

tak ada orang yang berani ke sana.

          Iba  melihat  penderitaan  Ibu,  aku  pun  berinisiatif.  “Bu,  biar  Zarah  yang  cari  Ayah,”
        kataku percaya diri. Sumpah. Aku takut luar biasa pada tempat satu itu. Tapi, demi Ibu dan
        calon adikku, aku siap nekat.

          “Masya Allah, Zarah,” Ibu terkesiap. “Sampai kapan pun kamu nggak boleh ke sana!
        Ngerti?”

          Aku melirik jam, cemas. Ibu semakin mulas.


          Salah satu warga menawarkan untuk memanggil Abah dan Umi ke kota. Ibu menolak
        mentah-mentah. “Cari saja Firas… saya cuma butuh Firas…,” rintihnya.

          Orang  yang  menawarkan  tadi  cuma  bisa  menelan  ludah.  Ibu  baru  saja  melontarkan
        permintaan yang mustahil.

          Tak sekali pun kami menyebut nama Bukit Jambul. Tidak perlu. Kami tahu sama tahu
        Ayah  ada  di  mana.  Berharap  dan  berdoa  agar  Ayah  segera  muncul  adalah  satu-satunya
        tindakan realistis yang bisa dilakukan malam itu.

          Pukul 9.00 malam. Ibu sudah tak kuat lagi. Adek sudah ingin keluar rupanya. Dalam

        kamar  tidurnya,  ditemani  Bidan  Ida  dan  seorang  ibu  yang  selama  ini  mengurus  kami
        bernama Bi Yati, Ibu menjalani proses persalinan.

          Hara  sudah  tidur.  Tinggal  aku  sendirian,  tegang  menanti  di  luar  kamar,  berdebar
        menunggu suara tangisan bayi mungil dari dalam sana, sibuk membayangkan seperti apa
        muka adik bungsuku. Hitam manis seperti Ayahkah? Atau putih seperti Ibu? Apakah ia
        mirip aku, yang kata orang berwajah Arab tapi berkulit langsat Sunda? Atau mirip Hara,
        yang berwajah Sunda tapi berkulit putih Arab?

          Kudengar Ibu menggerung kencang. Aku menduga, itulah momen Adek keluar. Tetapi,

        tidak terdengar tangisan bayi. Yang terdengar malah jeritan Bi Yati.

          Pintu  di  depanku  menghempas  terbuka  dengan  tiba-tiba.  Nyaris  menghajar  batang
        hidungku.  Bi  Yati  keluar  setengah  berlari,  wajahnya  penuh  teror.  Membabi  buta  ia
        bergegas ke kamar mandi. Muntah-muntah.

          Tak lama, terdengar Ibu memekik. Dan, ia pun menangis tersedu-sedu, yang kemudian
        meningkat menjadi meraung-raung. Sungguh aku kebingungan dengan semua itu. Bahkan,
        tak bisa memutuskan, haruskah aku masuk? Atau diam di tempat?

          Ibu semakin histeris. Aku mulai menangis, tanpa tahu apa yang kutangisi.


          Berlinangan  air  mata,  aku  menyuruk-nyuruk  masuk  ke  kamar.  Tak  ada  yang  peduli
        dengan  kehadiranku.  Bidan  Ida  berdiri  gemetar  dengan  bungkusan  kain  di  tangannya,
        mulutnya  komat-kamit  mengucap  doa.  Ibu  masih  terbaring  setengah  duduk,  meraung
        menghadap tembok.

          Bi  Yati  kembali  menghambur  masuk.  Tanpa  henti,  ia  menyebut  nama  Allah  saat
        mengambil bungkusan kain dari tangan Bidan Ida. Memberi Bidan Ida kesempatan untuk
        memotong tali pusar.
   21   22   23   24   25   26   27   28   29   30   31