Page 27 - Supernova 4, Partikel
P. 27

Bidan Ida menopang tubuh Ibu yang terkulai lemas. “Ayo, Aisyah, kita keluarkan ari-
        arinya.” Suara itu gemetar. Air mata membasahi pipinya.

          Bercampur tangis, Ibu mengejan, dan meluncurlah segumpal plasenta ke dalam ember
        plastik.

          “Sudah  selesai,  Aisyah.  Istigfar  saja,  istigfar,”  kata  Bidan  Ida  berulang-ulang  sambil
        membersihkan tubuh Ibu.

          Sementara  itu,  tubuh  mungil  dalam  bungkusan  kain  tidak  diapa-apakan.  Bi  Yati

        menggenggam bungkusan itu menjauhi tubuhnya, bahkan sambil memalingkan muka.

          Hatiku mulai resah. Kenapa mereka semua seperti itu? Ada apa dengan Adek? Apakah
        dia hidup? Kenapa ia diperlakukan seperti bangkai?

          Gemetaran,  Bi  Yati  pelan-pelan  menurunkan  bungkusan  kain  di  tangannya.
        Meletakkannya  di  tempat  tidur.  Melihat  bungkusan  itu  ada  di  dekatnya,  Ibu  langsung
        berbalik  memunggungi  sambil  terus  meraung.  Bidan  Ida  menenangkan  Ibu,  mengusap-
        usap punggungnya, tanpa putus mengomat-ngamitkan doa.

          Lamat-lamat kudengar bunyi dari bungkusan kain. Bunyi kerongkongan. Antara suara

        berkumur dan tercekik. Tak seperti tangisan bayi yang umum terdengar. Aku beringsut
        mendekati kain itu.

          Napasku seketika tertahan. Di atas kain sarung itu, tergeletaklah sesosok makhluk yang
        melampaui  semua  imajinasiku.  Satu-satunya  alasan  mengapa  aku  tidak  menjerit  adalah
        karena aku tak punya definisi atas apa yang kulihat.

          Makhluk  kecil  itu  tidak  seperti  manusia,  tidak  seperti  apa  pun  yang  kutahu.  Di
        permukaan  kulit  merah  yang  seperti  direbus  itu  terdapat  pola  retak-retak  seperti  sawah

        kering. Pinggiran retakan itu berwarna putih, berkerak. Sekujur tubuhnya ditutupi retakan
        itu. Di setiap lipatan badannya terdapat bilur dan luka, seperti baru disayat-sayat benda
        tajam. Mulutnya menganga bulat tanpa bisa ditutup. Tungkai kaki dan lengannya kecil,
        kisut,  dan  kaku.  Jemarinya  hanyalah  bulatan-bulatan,  seperti  bola-bola  daging  yang
        ditancap asal-asalan. Ia tak punya cuping telinga dan batang hidung, hanya dua lubang
        hitam di atas mulut dan dua lubang hitam di kiri-kanan wajahnya. Yang paling membuatku
        tercengang adalah matanya. Warnanya merah darah. Sepasang mata itu tidak menjorok ke

        dalam dan tidak berkelopak, tetapi berbentuk tonjolan yang mencelat keluar seperti dua
        kelereng merah. Dari pemandangan yang tak terdefinisikan itu, aku hanya bisa mencatat
        satu hal pasti. Kelaminnya laki-laki.

          Dia ternyata masih hidup. Meski kaku seperti papan, bisa kudengar suara napasnya yang
        mengorok.

          “Adek…,” bisikku.

          Bersamaan dengan itu, Ibu membalik badan. Mendapatiku tengah mematung di depan
        bayi yang baru saja dilahirkannya.


          “Zarah! Keluar kamu!” lengkingnya.

          Aku menggigit bibir, menahan sedu sedanku. “Bu, biar Zarah pergi cari Ayah—”
   22   23   24   25   26   27   28   29   30   31   32