Page 28 - Supernova 4, Partikel
P. 28

“Keluaaar!” jerit Ibu histeris.

          Terisak-isak,  aku  keluar  dari  sana.  Aku  tahu  Ibu  bukan  mengamuk  kepadaku.  Ia
        mengamuk kepada hidup ini. Aku hanya ingin menolongnya. Juga makhluk kecil dalam
        bungkusan sarung yang tergeletak di sampingnya.

          Sementara nama Tuhan terus bergaung dari kamar itu, aku hanya bisa memanggil satu
        nama. Adek.





        Esok paginya setelah kelahiran Adek, rumah kami berubah menjadi rumah duka. Orang-
        orang datang dengan kemurungan, pulang dengan mata sembap. Beberapa menyempatkan
        diri sembahyang dan mengaji.

          Tidak ada yang diizinkan masuk ke kamar kecuali Bi Yati dan Bidan Ida. Orang-orang
        yang menunggu di luar hanya diberi tahu bahwa bayi laki-laki yang dilahirkan Ibu sakit

        parah, dalam kondisi kritis, tinggal tunggu ajal. Kasak-kusuk pun berlanjut. Keterlaluan
        benar si Firas. Jabang bayi itu bertahan hidup pasti demi menunggu ayahnya pulang.

          Abah  dan  Umi  datang.  Merekalah  orang  pertama  yang  diizinkan  masuk  ke  kamar.
        Kudengar Umi menjeritkan “Masya Allah!” kemudian terdengar bunyi berdebuk. Kami
        yang di luar pun bisa tahu, Umi pingsan di dalam sana. Sepuluh menit kemudian, Abah
        keluar memapah Umi yang setengah sadar. Wajah Abah pucat. Ia tak bisa berkata-kata.
        Hanya merapalkan doa.

          Tak  ada  yang  berani  bertanya.  Mereka  semua  memaklumi  dukacita  Abah  dan  Umi.

        Kasihan  Abah  Hamid,  ia  akan  kehilangan  cucu  laki-laki  pertamanya,  begitu  mereka
        berkesimpulan.  Dari  semua  orang  yang  ada  di  luar  kamar,  cuma  aku  yang  tahu
        kedahsyatan sesungguhnya di dalam sana.

          Suatu kali aku berhasil mencegat Bi Yati yang keluar untuk pergi ke dapur.

          “Gimana Adek, Bi?” tanyaku.

          Bi Yati bengong. Agaknya ia tidak berhasil menyambungkan kata “Adek” dengan bayi
        yang  dilahirkan  Ibu.  “Oh.  Itu,”  katanya  pendek  sambil  sibuk  mengaduk  susu  bubuk
        dengan air hangat, memasukkannya ke dalam botol.


          “Buat Adek, Bi?” tembakku langsung.
          “Ibumu nggak bisa menyusui.”


          “Boleh saya yang kasih?”

          Bi Yati mendelik. “Kamu nggak boleh masuk ke sana. Ibumu sendiri yang bilang. Kamu
        dan Hara nggak boleh dekat-dekat itu.”

          Aku tak suka mendengarnya memakai kata “itu” untuk Adek. Namun, aku juga lega.
        Susu itu menandakan Adek masih hidup.

          Pagi digeser siang. Siang digusur sore. Dan, sore dengan cepat dilengserkan malam. Aku
        semakin resah. Pukul 7.00 malam dan Ayah belum kelihatan.
   23   24   25   26   27   28   29   30   31   32   33